FanFicK!NG – After…Love

Ini adalah Fanfic buatan dari fans trueeyes K!NG
This is about SeonDeok – Bidam and Deokman for future
Mungkin seperti Reinkarnasi ke kehidupan yang lainnya..
So love this FanFic..
The Created’s first by Dangyunhaji..
And for the second untill ending maybe will created by Patricia at Fans Club..

I hope you like it
even though this fanfic different with me (K!NG, the fourth page of my blog)

Judul sementara : After…Love

================================1======================================

Seong Deok-man terbangun dari mimpinya, mimpi-mimpi itu entah kenapa sering sekali menghantuinya akhir-akhir ini? Dari dalam mimpinya terlihat jelas sekali wajah seorang pria dengan luka-luka ditubuhnya menerjang masuk barisan para hwarang, meskipun tubuh pria itu sudah tanpa daya, dia terus berjalan kearah Deok-man. Mata pria itu penuh dengan kesedihan dan juga penyesalan yang teramat sangat, dada Deokman selalu sesak dan juga pedih melihat keadaannya itu. Ketika pria tersebut sudah tidak kuat lagi dan terjatuh ke tanah…disaat-saat itu pula Deok-man terbangun dari mimpinya dengan mata yang sudah berlinang dengan air mata.

“Ahh…ada apa dengan ku? Setiap malam hanya mimpi itu yang ku dapat.” Ucapnya pada dirinya sendiri sambil mengusap-usap pipinya yang basah, kemudian beranjak dari tempat tidurnya ke arah dapur untuk minum segelas air menenangkan diri.

Deok-man melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 5 pagi. Karena tidak mau memikirkan yang tidak-tidak tentang mimpinya itu, dia kemudian bersiap-siap mandi untuk pergi bekerja. Deokman bekerja sebagai pemandu turis di Seoul, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat disukainya karena bisa bertamasya ke segala tempat yang indah di Korea.

created by Dangyunhaji
trueeyes K!NG

Second scene
————————————————————————-

“Morning”, sapa seseorang sambil menepuk pundaknya.
Bi Dam tersenyum lebar melihat wajah pria yang memanggilnya. “Pagi, alcheon hyung, kurasa ada sesuatu yang bagus terjadi semalam, wajahmu terlihat cerah…”

Alcheon tertawa dan mengedikkan bahunya pelan. “Tidak juga, hanya saja keadaanku lebih baik darimu. tidak bisa tidur lagi semalam?” tanyanya sambil menampakkan ekspresi cemas.

“Sedikit kurang tidur… Biasa, mimpi itu lagi…”
“Gadis yang kau katakan menangis itu?”

“Ya, selalu sama. selalu saja tiap kali aku mengulurkan tangan hendak menghapus airmatanya, dadaku terasa sakit seperti dihujam, dan tahu-tahu aku terbangun dengan nafas terengah-engah. selanjutnya, seperti biasa, aku tidak bisa melanjutkan tidur…”

“Wah, kalau kondisimu kurang baik, lebih baik kita bicara saja sama manager… rekaman kita bisa diundur lain kali…”

“Tidak perlu, hyung,” bi dam mengulum senyum dan menepuk bahu sahabatnya tanda terimakasih. “Duet kita sebagai penyanyi sekarang sedang mencapai klimaksnya, dan aku ingin mencurahkan segalanya dalam pekerjaanku…”

“Kau jangan terlalu keras pada dirimu sendiri… Ribuan fansmu bisa menangis di luar sana,” ia tertawa sambil menyenggolkan sikunya pelan. “Dan fansku juga, kurasa…” lalu mereka tertawa bersamaan sembari berjalan menyusuri lorong.

“Apa kau sudah ada ide untuk single pertengahan tahun nanti?” tanya alcheon ketika lift yang baru saja mereka naiki bergerak. Ia sudah mulai menyusun singlenya sementara bi dam masih mencari lagu yang paling tepat untuknya.

“Entahlah,” Bi dam menatap angka-angka yang menunjukkan posisi mereka. 1…2…3…4…5… dan kepalanya terasa sakit seperti dihantam. ia mengernyitkan dahi, dan kilasan memori mengenai wajah gadis itu muncul selintas.

“Kau tidak apa-apa? wajahmu pucat sekali!!” alcheon menatap bi dam dengan cemas.
TING TONG!
“Ayo kita keluar, manajer pasti masih menyimpan obat sakit kepala untukmu..”

“Aku tidak apa-apa hyung…” tolak bi dam dengan senyum tertahan. “Rasanya… aku sudah menemukan ide untuk singleku nanti…” sebuah senyuman tipis tergurat di bibirnya yang penuh.
========================================================================
Third scene—-deokman
=====================================
“Sekarang, tidak akan ada lagi yang memanggil namaku”
“Aku! Aku akan memanggil namamu”
“Memanggil namaku berarti pengkhianatan. Bahkan jika kau melakukannya karena cinta, dunia akan berkata itu pengkhianatan.”

Deokman memandang sekeliling dengan panik. Lgi-lagi mimpi ini. Lagi-lagi laki-laki itu.
Srat!!!
Deokman ingin menjerit tetapi lidahnya terasa begitu kaku.
“Jangan tusuk dia lagi!!!” ia berusaha membuka bibirnya tetapi sia-sia. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, laki-laki itu rubuh di hadapannya dengan bergelimang darah.

Deokman membuka matanya yang basah oleh air mata, dan kegelapan yang luas membentang di hadapannya. mimpi yang dialaminya semakin lama semakin terasa nyata dan nyata. Dan kali ini bahkan ia merasakan perasaan aneh di dadanya. perasaan yang menyesakkan namun terasa sangat familier.

“Siapa pria itu?” bisiknya sambil berusaha menenangkan degup jantungnya. Kepalanya selalu terasa sakit tiap berusaha mengingat mimpinya. setiap kali terpotong-potong bagaikan adegan yang tidak utuh dari sebuah kisah yang panjang.
Dan nyata.
Terlalu nyata sampai seringkali ia merasa lelaki itu memang pernah ada di hidupnya.
Dia merasa tidak asing dengan guratan senyuman sedih di bibir pria itu, dan tatapan matanya yang penuh rasa sendu, juga rasa pilu yang menghujamnya setiap kali ia mengingat mimpi dimana pria itu berusaha melangkah menuju ke hadapannya dengan bersimbah darah.

TOK-TOK-TOK
“Apa kau baik-baik saja?” ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. “Ini aku chen myeong, sudah saatnya kita siap-siap…”

Deokman cepat-cepat melangkah ke pintu kamarnya dan membuka pintunya.”Kenapa unni bisa di sini?”
“Eh? Apa maksudmu? Dari kemarin kan aku memang di sini…” jawabnya sambil tertawa renyah. “Wajahmu pucat, kau mimpi buruk?”
“Eh, ya, nggak… maksudku, aku nggak apa-apa…”

Deokman menertawakan dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan kalau saat ini dia dan chen myeong, (sahabat yang sudah seperti kakaknya sendiri) sedang ditugaskan untuk mengantar turis menjelajahi pulau Cheju yang terkenal dengan keindahannya. Karena itulah ia menginap di hotel ini bersama Chen Meyong dan anggota tur lainnya.

“Besok hari terakhir, bukan?” tanya Chen Myeong sambil tertawa menenangkan. “Kita berjuang untuk besok, dan kemudian, kita akan kerja bareng lagi sekitar dua minggu dari sekarang…”

“Eh? apakah jadwal tugas berikutnya sudah ditetapkan?”

Kali ini Chen Myeong benar-benar menatapnya dengan pandangan cemas. “Kau yakin kau tidak apa-apa? Sudah beberapa waktu ini kulihat kau sering melamun dan tampak tidak sehat. Kau bahkan tidak memperhatikan jadwal, padahal biasanya kau yang paling pertama tahu…”

“Maaf unni…” ujar Deokman sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

“Aku mengkhawatirkan kesehatanmu Deokman, kau tahu kan kalau aku sangat sayang padamu…” Chen Myeong tersenyum lembut sambil memandangi sosok yang sudah seperti adiknya sendiri itu.
“Aku tahu itu, unni…” senyuman terimakasih mengembang di wajahnya.

“Jadi, sekarang bersiaplah,” ujar Chen Myeong sambil menepuk pipi Deokman pelan dan menutup pintunya. ia sendiri berjalan ke kamarnya untuk melakukan final check.

Fourth Scene
Bi dam
————————————————————————
“Ahh… jadi kau akan menggunakan mimpimu sebagai ide dasar untuk lagu singlemu nanti?” Alcheon tertawa memandang Bi dam dengan kagum sekaligus terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka rekannya itu bisa-bisanya punya pemikiran semacam itu.

“Begitulah kira-kira…” sahut Bi dam sambil tertawa kecil, memamerkan selintas deretan gigi putihnya yang sempurna.

“Kadang-kadang aku memang sulit memahami dirimu,” Alcheon geleng-geleng dengan perasaan geli campur bingung. “Tapi, kalau menurutmu bisa, kenapa tidak? Feelingmu jarang meleset, bukan?”

“Karena itulah aku harus bertaruh pada mimpiku malam ini,” ujarnya sambil mengedikkan bahu sedikit.

“Bertaruh?” Alcheon mengangkat alisnya sedikit. “apa maksudmu? Kayaknya semakin lama kata-katamu semakin sulit dicerna”

Bi dam tergelak sedikit saat bicara. “Maksudku, aku harus menunggu kelanjutan mimpiku ini!!”

Kali ini alcheon bahkan tidak sanggup menanggapi kalimat sobatnya. Ia hanya mampu memutar bola matanya, pasrah dengan keadaan. “Apapun itu, semoga berhasil…”

——–
“Raja2 sebelumnya juga sama, mereka berkorban dan memberikan padaku tugas penting ini dan mimpi ini. Silla harus kuat tidak boleh berakhir, menguatkan kekuasaan kerajaan Shilla, dan mencapai penyatuan 3 negara, dan sebelum itu, Ratu tidak akan pernah menjadi seorang wanita atau “aku””

Bi dam merasakan bibirnya bergetar dan bergerak membentuk kata, “Yang Mulia…”
lalu sekelebat memori kembali berputar di hadapannya.

Aku tidak punya nama apakah itu Putra Mahkota atau putri, bahkan orang di pasar punya nama tapi Penguasa tidak punya nama untuk dirinya sendiri. Penguasa hanyalah “Yang Mulia”. Sekarang tidak seorang pun yang bisa memanggil namaku..”

“Aku! aku yang akan melakukannya untukmu…”

” Memanggil namaku berarti pengkhianatan. Bahkan jika kau melakukannya karena cinta, dunia akan berkata itu”

Srat!!! Panah menghujam tubuhnya. peluh bercampur darah memenuhi tubuhnya. Ia bisa merasakan seberapa gontai langkahnya. “Sepuluh langkah,” batinnya saat matanya bertatapan dengan mata wanita yang penuh air mata itu. “Sepuluh langkah lagi…” pikirnya.

Ia merasakan tangannya gemetar dan nyaris kaku. Ia tahu setiap inci tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Satu tebasan panjang. Dua tebasan panjang. Ia masih meneruskan langkahnya.
“Jangan menangis…” bisik batinnya. Bi dam merasakan tangannya terulur maju, dan bibirnya bergerak tidak kauran. “Deokman…., Deokman….” ia merasa ia telah menyebut namanya, dan kemudian Srat!!! tebasan terakhir mencabik sisa-sisa nyawanya, nafasnya, dan merenggut segalanya.

Bi dam terbangun dengan bibir masih bergerak-gerak, meracau dan menyebut nama yang tidak pernah dikenalnya.
“Deokman…?” dengan galau Bi dam menghapus keringatnya dan menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya terasa berdetak sangat cepat dan rasa sakit itu begitu nyata. Namun dadanya lebih sakit lagi.

Ia merasa ia mengenal gadis itu. Ia bahkan bisa merasakan penyesalan karena tangannya bahkan tidak mampu menghapus airmata itu. Akan tetapi tidak hanya penyesalan, ia juga merasakan perasaan yang hangat dalam dadanya.
Dan ia tahu satu hal yang pasti.
Ia bisa merasakan-entah siapa yang ia mimpikan itu-sangat mencintai gadis itu.

Fifth scene
Deokman
—————————————————————————-
Srat!!
satu tebasan panjang. Deokman menahan nafas dan merasakan setetes cairan hangat meluncur di pipinya.
Srat! Tebasan kedua.
“Apa yang kau lakukan?!” Ia nyaris berteriak dan menjerit saat melihat darah menetes-netes dari wajah pria itu. Luka dari panah-panah yang menhujam tubuhnya.
“Bi Dam!! Jangan kemari!! Tolong jangan kemari” jeritnya putus asa.

Tapi sia-sia. Tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Rasanya sama sekali tidak ada tenaga yang keluar. Dan ia sama sekali tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri. Seolah-olah tugasnya memang hanya menonton. Hanya melihat akhir dari hidup pria itu. Lagi dan Lagi.

“Jangaaaan!!!!!!!!!!!!!!”
Deokman terbangun dengan teriakan histeris dari mulutnya. Ia terengah-engah dan dengan tangan gemetar menutup mulutnya. Bahunya berguncang-guncang menahan tangis. “Siapa dia?! Kenapa aku mimpi seperti ini!?”

Samar-samar ia mengingat kalimat yang ia ucapkan dalam mimpinya. “Bi… dam…” ia mencoba mengulangnya, dan entah kenapa kata itu menimbulkan perasaan aneh dalam dadanya. Seperti sebuah perasaan rindu.

“Bi dam,” ujarnya lagi sambil menarik nafas dalam-dalam. Kali ini jantungnya tiba-tiba menimbulkan sensasi aneh ketika berdetak. “Apakah namanya Bi Dam? Siapa itu Bi Dam?” ia mencoba mengingat-ngingat mimpinya.

—–

“Pagi Deokman!!” sapa Chen Myeong sambil meletakkan tasnya di kursi. “File apa yang kau baca itu?”

“Oh, pagi,” sahut Deokman. “Ini file yang baru ku print tadi pagi… Ada sesuatu yang ingin kuketahui…”

“Oh ya?” Chen Myeong mengerutkan kening dengan bingung. “Sejarah kerajaan? Ada yang penting dari sana?”

“Tidak juga,” jawab Deokman sambil tersenyum simpul. “Aku penasaran dengan model baju jaman dulu…” lanjutnya sambil setengah tertawa.

Deokman melihat halaman demi halaman dan mencari model baju yang menyerupai model baju para prajurit yang ia lihat dalam mimpinya. Model baju prajurit tidak banyak berubah dari jaman ke jaman. Namun entah mengapa, ia tidak bisa melepaskan perhatiannya dari Sejarah Kerajaan Shilla.

“Sejak kapan kau beralih profesi jadi ahli sejarah? Apakah nanti waktu ada tour kau akan menjelaskan semuanya?”

“Hahaha…Unni bisa saja. Mana bisa aku memahami semua ini dalam waktu singkat. Lagipula, kita toh tidak ada urusan apa-apa ke Geongju…”

“Eh, siapa bilang? Bisa saja kan? Tempat itu kan nilai sejarahnya tinggi.” Chen Myeong ikut-ikutan membalik halaman demi halaman dan dengan kaget menarik lengan baju Deokman. “Deokman! Lihat ini!”

“Eh? ada apa unni?” Dan mata Deokman membelalak melihat foto di depannya.

“Kenapa kalau kuamati, sepertinya Ratu Shilla wajahnya sedikit mirip dengan mu ya?” Chen Myeong memandang Deokman dan foto itu bergantian dengan takjub. “Jangan-jangan kamu reinkarnasinya!!”

Deokman terkeju namun memaksakan diri tetap tersenyum. “Jangan bercanda ah, unni… Mana mungkin aku bisa jadi ratu? Hahaha..”

“Bener juga ya?” Chen Myeong mengangguk-angguk, lalu menepuk pundak Deokman lagi, dan memberikan isyarat lewat satu kali anggukan pendek. “Manajer memanggilmu tuh!!”

“Waduh, aku salah apa lagi?” Deokman menggigit bibir bawahnya dengan cemas. “Aku ke sana dulu ya unni…”

“Deokman, fighting!!”
“Yup!!”

Deokman menarik nafas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Tak lama terdengar sahutan dari dalam. Ia pun masuk dengan perasaan gugup.
“Anda mencari saya, Yushin-shi?” tanya Deokman sambil mengintip file-file yang sedang dibaca oleh Yushin, manajer HRD di perusahaan tourism mereka.

“Kemarin saat kamu ke Pulau Cheju dengan ChenMyeong, kudengar kondisimu sedang tidak fit…”
Deokman memandang Yushin dengan kaget dan kemudian menutup matanya sambil membatin. “Mampuslah aku… Kena marah lagi..”

“Dan sekarang, apa kondisi mu sudah kembali baik?”
“Eh? Apa?” Deokman terkejut mendengarkan pertanyaan itu. Ia sudah siap-siap dimarahi oleh manajernya entah untuk yang keberapa kalinya. “I-iya… tentu saja!!”

“Bagus, kerjamu kemarin juga cukup bagus, dan kurasa kamu bisa kupercaya untuk tugas ini…” ujar Yushin sambil mengulurkan sebuah map ke hadapannya.

“Anda tidak marah pada saya?”tanya Deokman ragu-ragu.

Yushin tertawa dan mengangguk. “Chen Myeong memberitahukan padaku keadaanmu. Dan ia memintaku berjanji dan berjanji dan terus berjanji untuk tidak berlaku terlalu keras padamu…”

“Terimakasih unni,” bibik Deokman dalam hati. Deokman lantas membuka map, membacanya sekilas dan terkejut. “Ke Geongju?”

“Ya, ada tiga orang yang minta diberikan pelayanan turis khusus, dan meraka tidak mau grup, tapi private, jadi kurasa kau cocok menjalani tugas ini… Ada keberatan?”

“Dua orang?” Ia membuka halaman selanjutnya dan terkejut.”Tidak ada foto calon turis di sini…Hanya ada nama dan tandatangan. Bagaimana aku bisa mengenalinya nanti?”

“Kau pasti mengenalinya. mereka duo penanyi yang sedang naik daun saat ini, Alcheon dan Bi dam. Mereka pergi bertiga dengan manajernya, Wolya-shi..”

Kali ini giliran Deokman yang tidak mampu menjawab apapun. Samar-samar ia merasakan bibirnya bergerak membentuk kata, “Baiklah.. tentu saja, terimakasih atas kepercayaan manajer padaku…” Namun pikirannya melayang entah kemana.

SIXTH SCENE
BI DAM
—————————————————————————————–
Alcheon menutup mulutnya dengan punggung tangannya, berusaha mengusir rasa kantuk yang melandanya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Barangkali ia mulai terpengaruh oleh omongan Bi Dam. Buktinya semalam ia juga memimpikan sebuah kerajaan. Dan di sana, kalau ingatannya masih jelas, ia berperan sebagai pengawal setia seorang putri.

Seiring dengan langkah kakinya menyusuri lorong, sayup-sayup ia mendengar alunan suara seruling yang sendu. Ia tersenyum kecil dan mempercepat langkahnya, memasuki ruangan di sudut lorong yang sejak semula memang ia tuju.

“Sudah kuduga, memang kau yang memainkannya…” ujarnya sambil menjatuhkan dirinya di sofa terdekat yang bisa ia temukan. “Apa perasaan hatimu sedang tidak nyaman?”

BiDam menyelesaikan lagunya, lalu menghela nafas dan menatap Alcheon sejenak. “Bagaimana kau bisa tahu tentang perasaanku?”

“Kau hanya memainkannya saat perasaanmu tidak nyaman bukan? Karena seruling identik dengan Ayah angkatmu, Munno-shi…”

Bi Dam mengangguk pelan, menyimpan serulingnya dan bertanya tanpa menoleh. “Kau sudah mengaturkannya untukku?”

“Sudah,” jawab Alcheon sambil lalu. “Aku sudah meminta Wolya-shi mengaturkannya untuk kita,” jawabnya pelan. “Dan Yeomjong akan ikut, tentu saja.”

Bi Dam diam sebentar sambil berpikir. “Untuk apa Yeomjong ikut?” pertanyaannya lebih ke arah protes.

“Sebagai promotion chief, dia akan sekaligus meliput dan mengambil foto-foto kita di sana, lagipula, dia punya banyak relasi yang bisa mempermudah urusan2 kita..”

“Terserah kalau begitu,” ujar Bi Dam. “Lagipula,sebelum ke Gyeongju, aku berniat untuk mampir ke rumah omma…”
“Ke tempat mishil-shi?” Alcheon mengangguk setuju. “Aku sarankan kita ke sana malam hari. Kau tahu ada banyak paparazzi di luar sana…”

“Aku tahu itu,” Bi Dam menarik nafas dan tersenyum getir. “Entah kenapa urusan dalam hidupku seringkali tidak mudah…”
—————– ——————–
Mobil mereka bergerak dalam gelapnya malam. Bi DAm sesekali memandang keluar dan kembali memainkan sulingnya. Kali ini lagunya lebih teratur dan berirama sendu. Alcheon menunggu sampai Bi Dam selesai, barulah ia bersuara.

“Lagu yang indah sekali… Kau menciptakannya?”
“Begitulah,” jawab Bi Dam cepat. “Bagaimana menurutmu?”

“Lumayan, aku cukup tertarik…” sahut Alcheon sambil membaca majalahnya. “Kau bermaksud menggunakannya untuk single-mu?”
“Begitulah, tapi aku masih berusaha memodifikasinya… Entah kenapa perasaanku belum terwakili ke lagu ini…”

“Perasaanmu kadang terlalu rumit,” gerutu Alcheon. “Tapi itu yang membuatmu menjadi pribadi yang kompleks,” sambungnya sambil berpikir. Lama ada jeda sebelum akhirnya ia menambahkan. “Kupikir, aku harus mengatakan ini padamu…”

“Apa itu?” tanya Bi Dam dengan wajah penasaran. “Sesuatu yang penting? Ada kaitannya dengan omma-ku?”
“Bukan, bukan dengan mishil-shi, tetapi denganmu.” Alcheon berusaha menekan suaranya. “Dengan mimpimu…”

“Mimpiku?” Bi Dam tertawa kecil memandang Alcheon. “Aku tidak mau dengar kalau kau mengatakan padaku itu mimpi anak-anak…” ia hampir tertawa, namun melihat keseriusan raut wajah Alcheon, ia menghentikan senyumnya.

“Aku juga mulai memimpikannya…” ujar Alcheon dengan suara gemetar. “Aku tidak yakin apa penyebabnya, namun aku juga mulai memimpikannya..” Alcheon tampak ragu-ragu sebelum menambahkan. “Awalnya buram, namun lama-kelamaan, gambarnya semakin jelas dan nyata. Dan bagaikan potongan puzzle, semuanya mulai tersambung…”

Kali ini giliran Bi Dam yang tidak mampu mengatakan apapun. Ia hanya mampu menatap Alcheon dengan bingung. Bahkan ketika mobil mereka tiba di kediaman Mishil-shi, Bi Dam masih terperangkap dalam pemikirannya.

—————- —————–

“Bi Dam!!” Mishil membuka lengannya dan merangkul putranya erat-erat. “Aku senang kamu datang ke sini…” ujarnya sambil melepaskan pelukan dan menatap putranya yang tampan. “Dan ada Alcheon juga,” serunya sambil tersenyum menatap Alcheon dari balik pundak putranya.

“Maaf aku lama tidak datang, apakah kesehatan omma baik2 saja?” tanya Bi Dam khawatir.
“Tentu saja,” jawab Mishil dengan tenang. “Kesehatan Munno juga semakin membaik.” Walaupun tidak ditanyakan, ia tahu pasti putranya akan menanyakannya cepat atau lambat.

“Syukurlah, jawab Bi Dam sembari tersenyum. Sejak kecil, ia sudah harus hidup terpisah dari Mishi, Karena Mishil sebagai aktris terkenal tidak boleh ketahuan telah memiliki anak diluar nikah dengan pria biasa-biasa saja bernama Sadaham.

Semua semakin kacau saat Sadaham meninggal karena kecelakaan mobil pada saat Mishil berada di puncak ketenarannya. Mishil terpaksa meninggalkan Bi DAm atas perintah manajemennya, dan oleh Karena itulah, Bi Dam diangkat anak oleh Munno dan tumbuh bersamanya.

Setelah dewasa, ia ditemukan oleh sebuah grup pencari bakat dan secara kebetulan ia berada dalam satu production house dengan ibunya. Bi Dam bahkan menjadi lebih terkenal dari Ibunya. Hal ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Munno.

Awalnya Bi Dam tidak mengetahui kalau Mishil adalah Ibunya, tentu saja, namun suatu hari, ia mendengar pembicaraan rahasia antara Mishil dan Munno. Dan sejak itu, ia menyelidiki asal usulnya.

Hatinya hancur karena Munno yang merupakan sosok sangat disayangi dan didambakannya ternyata bukan Ayah kandungnya. Namun lebih dari itu, ia mencoba bersyukur karena selain seorang ibu, ia juga memiliki 2 ayah yang menyayanginya.

Karena keberadaan Bi Dam, akhirnya hubungan Mishil dan Munno pun mulai dekat. Namun, tidak sampai beberapa minggu kemudian, Munno ditemukan terkapar di pinggir jalan. Diduga ia dikeroyok dan tubuh serta kepalanya dihantam dengan benda-benda tumpul. Tidak diketahui pelakunya sampai sekarang. Namun jelas, Bi Dam mencurigai satu orang sebagai otak pelakunya. Pelaku yang membuat Munno sampai detik ini terbaring koma di rumah sakit Seoul.

“Apa yang kau pikirkan, Bi Dam?” tanya Alcheon sambil menyenggol sikunya. “Kau melamun?”

“Ah, ya sedikit…” gurau Bi Dam. Matanya bertatapan dengan Ibunya dan mereka menemukan kesedihan di sana. Sekaligus kesamaan. Mereka sama-sama mengetahui kenyataan, namun yang satunya tidak bermaksud mengungkapkannya sedikit pun; sedangkan yang satunya lagi tidak yakin akan fakta yang ia simpulkan sendiri, karena itu ia tidak berani sembarangan berspekulasi.
———————– —————————
Ruangan serba putih itu tampak sepi. Hanya gema langkah kaki yang terdengar, mengisi keheningan salah satu ruangan di RS Seoul. Alcheon dan Bi Dam menatap pria yang terbaring dalam keadaan koma di hadapannya.

“Dia masih belum sadar, namun beberapa hari lalu jari tangannya bergerak sedikit. Kata dokter, artinya masih ada kemungkinan…”

“Syukurlah, Munno-shi…” Alcheon berbisik kecil, namun sia-sia, pria itu seolah tertidur nyenyak dalam mimpi tanpa akhir.

“Appa…” bisik Bi Dam sambil berjalan mendekati ranjang dan menyentuh tangan pria itu. Tangannya masih terasa hangat. Namun ekpresinya tetap kaku dan dingin. Sama sekali tidak ada reaksi. “Aku janji, aku pasti akan menemukan orang yang emmbuat Appa seperti ini…” geramnya.

“Bi Dam, tidak perlu mengubur dirimu dalam kebencian. Mungkin ini semua sudah kehendak langit.” Alcheon menepuk pundak Bi Dam, berusaha menenangkannya.

“Tidak ada yang dinamakan dengan kehendak langit,” ujar Mishil dengan suara bergetar. “Tidak ada.”

“Aku tahu kau mengetahui sesuatu, Omma…” ujar Bi Dam perlahan. “Namun, aku tidak akan memaksa…” Bi Dam melepaskan genggaman tangannya dari tangan Munno dan melangkah ke pintu keluar.

“Kau sudah akan pergi sekarang?” tanya Mishil dengan perasaan tidak rela. “Apakah kau akan kembali lagi menemuiku?”

“Tentu saja, Omma…” jawab Bi Dam sambil tersenyum tulus, “Jaga dirimu dan Appa baik-baik… Dan jangan lupa untuk membeli CD original single-ku…” canda Bi Dam.

Mishil menatap Bi Dam dan tertawa. “Apakah kalau aku meminta tandatangan, aku akan mendapatkannya gratis?”

“Tidak ada yang gratis di dunia ini,” ujar Bi Dam sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil. “Jangan lupa siapkan ayam rebus kalau aku berkunjung lagi nanti…” tambahnya sambil tertawa renyah. “Ayo Alcheon, kita ke Gyeongju…”

SEVENTH SCENE
DEOKMAN
—————————————————————————————————————————————-
“Selamat pagi Deokman!!” Chen Myeong menenteng sebuah koper sambil tersenyum lebar. “Kenapa wajahmu? Kaget ya?”

“Unni? Kupikir aku akan mengantar turis2 itu sendirian…”

“Yushin-shi memenuhi keinginanku untuk menemanimu. Lagipula dia tidak bisa menolak. Bayaran yang kantorn kita terima kan besar sekali, bahkan lebih dari cukup untuk empat tourist guide…”

“Tapi, aku jadi tidak enak, harus merepotkan unni lagi…”
“Ah, kapan sih aku direpotkan?” jawab Chen Myeong lembut. “Lihat Deokman, aku yakin mobil itu yang dimaksud…”
“Oh ya?”

Deokman memandang ke kejauhan. Matahari terasa hagat namun tidak panas membakar. Cuaca yang disukainya. Dan entah kenapa, sedari tadi jantungnya terus berdebar-debar tidak menentu.

“Selamat pagi,” sapa Chen Myeong pada pria yang melangkah keluar dari mobil sport putihnya. Pria itu tampan dengan tinggi dan postur yang cukup ideal.
“Namaku Wolya,” ujar pria itu sambil mengenalkan diri dengan sopan.

“Namaku Chen Myeong, dan ini Deokman. Apakah anda hanya sendirian?” Tanya Chen Myeong sambil memulai percakapan dengan luwes.

“Mereka belum tiba di sini?” Tanya Wolya dengan wajah terkejut. “Tapi kata mereka, tadi mereka sampai di sini sekitar satu jam yang lalu.” Wajahnya terlihat panic sekarang.

“Kalian terpisah?” ChenMyeong mulai merasakan kepanikan tersendiri. “Bukankah mereka terkenal? Bisa gawat kalau ada fans yang mengenali mereka…”

“Itulah yang juga kukhawatirkan…”

“Ayo kita pergi mencari mereka,” ajak Wolya dengan terburu-buru.
“Tapi tempat ini lias sekali, ada kemungkinan kita tidak bisa menemukan mereka hari ini… Mungkin terpaksa diundur sampai besok…”

Wolya melirik jam tangannya dan menarik nafas panjang. “Seharusnya meerka bisa ditemukan… Mereka kan belum lama tibanya…”

“Tempat ini mudah membuat orang tersesat, apalagi bagi yang tidak tahu jalan…” keluh ChenMyeong.

“Ayo kita cari saja, unni…”
Deokman dan Chen Myeong dengan segera mengangkat koper mereka dan mulai berkeliling mencari.
———————————— —————————————-
“Astaga, dimana sih orang2 itu…” keluh Deokman sambil memandang sekeliling dengan cemas. “Seharusnya mereka menunggu di tempat yang ditentukan,” keluhnya.

BRUK!!!

“Kyaa!!” Deokman menjerit kaget saa seorang pria yang sedang berlari menabraknya sampai ia terjatuh. Dan bukannya minta maaf, pria itu malah pergi begitu saja. Sekarang bukan hanya kakinya yang lecet, barang2nya juga berhamburan. Deokman menarik nafas dengan kesal lalu mulai memunguti barang2nya.

“Boleh saya bantu, nona?” ujar sebuah suara yang sopan dan lembut.

Deokman menoleh ke si pemilik suara dan nafasnya seolah terhenti. Pria itu sepertinya merasakan hal yang sama.

Udara seolah berhenti dan angin seolah tidak lagi bertiup. Ia merasakan jantungnya berdetak liar dan tatapan mata pria itu membuatnya sulit bernafas.

Samar-samar, Deokman seolah mendengarkan gaung suara aneh yang sama dengan mimpinya, dan ia nyaris tidak bernafas saat merasakan betapa familiarnya mata coklat sendu itu.

Pria itu tidak bergerak dari tempatnya, demikian pula dengan Deokman. Mata mereka seolah tidak dapat menangkap objek selain diri mereka, dan semuanya seolah terpusat di sana. Tetapi tidak hanya itu. Ia merasakan rasa sakit. Rasa sakit sekaligus sesak yang luar biasa di dadanya.

“Nona? Apa kau baik-baik saja?” pria itu tiba-tiba bertanya dengan wajah terkejut
“Ya, tentu saja…” jawab Deokman buru-buru. “Kenapa?”

“Kau menangis?” Tanya pria itu lagi. Ekspresinya terlihat cemas.
“Kapan aku menangis?” Deokman mencoba tertawa, namun saat ia menyentuh pipinya sendiri, ia terkejut saat menyadari pipinya sudah basah oleh air mata. “Oh, kau benar, aku menangis…” gumamnya kacau.

“Pria tadi menabrakmu dengan keras ya?” Tanya pria itu sambil membantu memunguti barang-barangnya. Seolah teringat sesuatu, ia menyodorkan sapu tangannya dengan cepat. “Hapuslah air matamu…”

“Terimakasih…” sahut Deokman sambil menerima sapu tangan itu. Sambil mengusap air mata di pipinya, ia mencium aroma segar dari sapuntangan pria itu. Ia menyukai aroma parfum pria yang segar dari sapu tanga itu, dan menduga aroma itu berasal dari parfum yang dikenakan pria itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya pria itu lagi. Deokman tersadar dari lamunannya dan mengangguk gugup. Sebelumnya ia tidak pernah bertingkah seaneh ini di depan pria. Dan sebelumnya jantungnya belum pernah juga berdebar segila ini. Dan wajahnya terlalu familiar bagi Deokman.

“Deokman!!!” dari kejauhan, seseorang berteriak memannggil namanya. Deokman terkejut dan melambaikan tangan begitu melihat pemanggilnya, Chen Myeong. “Aku di sini, unni…” ujar Deokman sambil bangkit berdiri.

“Aku mencarimu dari tadi! Dan aku sudah menemukan Alcheon-shi!” serunya dengan ekspresi kesuksesan. “Dan pria ini adalah…” ChenMyeong ternganga sesaat lalu buru-buru menunduk dan mengucapkan salam dengan gugup. “Selamat siang, BiDam-shi…” ujarnya, lalu menyenggol Deokman pelan. “Ternyata kau sudah menemukan BiDam-shi ya?”

”Oh, ternyata dia adalah BiDam-shi? Pantas saja aku merasa familier dengan wajahnya…” pikir Deokman sambil terus memandang wajah pria di depannya. Tetapi entah mengapa Deokman merasa bukan karena itu ia merasa begitu familier dengan wajah itu. Ada sesuatu yang lain, entah apa itu

“Kebetulan yang aneh, ya?” ujar pria itu sambil tersenyum. Deokman memandang senyuman itu dan tidak dapat menahan diri untuk ikut tersenyum.

“Benar, salam kenal, BiDam-shi, nama saya Deokman…” ujarnya sambil menunduk dengan sopan. Pria itu terlihat sedikit terkejut mendengar namanya namun dengan sopan tersenyum menanggapi. “Sebaiknya kita mulai tur besok saja, mungkin kalian membutuhkan istirahat karena sudah lelah mencari kami…”
ChenMyeong dengan cepat menyanggah. “Tidak bisa, BiDam shi, dalam perjanjian kan kita setuju akan menjalani tur dalam 3 hari, lagipula saying sekali kalau kesempatan hari ini disia-siakan…” ia melirik Deokman sekilas. “Iya kan, Deokman?”

“I-iya..” sahur Deokman dengan pikiran tidak jelas ke arah mana.

“Dia tampan ya, Alcheon-shi juga…” bisik ChenMyeong sambil tersenyum kecil. “Kau menyukainya Deokman?” Tanya ChenMyeong sambil berbisik di telinga Deokman. “Dan dia sepertinya sangat perhatian pada kita…”

Deokman tidak bisa menahan pipinya yang memerah. Sekalipun baru kali ini bertemu langsung dengan duo penyanyi ini, entah kenapa ia merasa tidak asing dengan kehadiran mereka, terutama dengan BiDam, yang sejak awal menciptakan berbagai perasaan aneh di dadanya.

“Aku tidak menyangka sepertinya tur kali ini akan menarik…” bisik Alcheon pada sobatnya. “Dua gadis pemandu tur kita cantik, bukan?”
“Benar,” BiDam menimpali sambil memandang kedua gadis yang bicara dengan semangat di hadapan mereka.

“Jadi, hari ini kita akan kemana?” Tanya Alcheon dengan bersemangat. Ia tersenyum pada ChenMyeong yang menanggapi senyumannya dengan sebuah jawaban.

“Mungkin kita pertama-tama akan mencari makanan dulu…” jawab ChenMyeong sambil tersenyum pada keduanya. “Makanan apa yang kau suka, BiDam-shi?”

“Sup ayam dengan bumbu jahe merah?” tanyanya sambil sedikit nyengir.
“Kalau begitu, ayo kita makan sup ayam!!” ujar ChenMyeong bersemangat. “Aku tahu restoran yang lezat!”
————————————– —————————————————

EIGHTH SCENE
BIDAM
————————————————————————————————————————————-
BiDam terbangun dengan tubuh penuh keringat dingin. Di sampingnya, Alcheon tidur dengan gelisah. Ia membangunkan sobatnya.

“Apakah kau mengalaminya juga?” tanya Alcheon begitu bangun. Ia menyeka keringat yang memenuhi keningnya.

“Tidak hanya itu. Aku tahu mimpiku semakin parah dari waktu ke waktu. Tapi kali ini lain. Rasanya semuanya semakin jelas. Dan semakin nyata. Terlalu nyata…” BiDam memejamkan mata, seolah kembali merasakan semua sayatan di tubuhnya. “Sejak datang ke Geongju, kepalaku kadang-kadang terasa sangat sakit. Contohnya, kemarin saat kita memasuki halaman utama tempat dulu para prajurit Shilla berlatih…”

“Kau mau dengar yang lebih gila daripada itu?” tanya Alcheon sambil mengepalkan rangannya. “Aku juga merasakan sakit di kepalaku, saat melewati halaman utama, dan sejumlah gerbang. Rasanya aneh, dan begitu familiar… seperti sebuah deja-vu…”

“Benar, seperti deja-vu,” BiDam mengulang kalimat Alcheon dengan ragu. “Aku merasa semua tempat itu pernah kulalui dulu. Tapi aku tidak tahu kapan dan dimana. Hanya saja, aku merasa kalau aku ditinggalkan di sana, aku bisa menelusuri semua jalan itu tanpa tersesat…”

“Begitulah,” ujar Alcheon. “Dan rasanya aku tahu bagaimana perasaanmu. Sekarang aku mau minta maaf karena dulu menertawakan mimpimu…”

“Itu bukan masalah lagi,” ujar BiDam tergelak. “Sekarang, kurasa semua mimpiku memang ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Shilla. Hanya saja aku tidak tahu apa yang menyebabkan kita memimpikan ini semua…”
——————————- ====================——————————————

“Selamat pagi, BiDam-shi, Alcheon-shi… Tidur nyenyak semalam?” tanya ChenMyeong. Wajahnya terlihat ceria namun tidak dapat disangkal, matanya terlihat sedikir mengantuk.

“Tidak bisa nyenyak…” ujar Alcheon setengah tertawa. “Tapi rasanya kau juga tidak tidur nyenyak, bukan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” ChenMyeong menatap Alcheon dengan kaget dan memegang pipinya yang memerah. “Semalam aku mimpi aneh, dan rasanya begitu nyata.”

“Aku rasa itu hal yang wajar,” sahut Alcheon sambil mengingat mimpinya semalam. “Tempat ini membuat kita semua mengalami hal-hal yang sulit diduga…”

“Benar, tapi rasanya cukup menyenangkan…” ujar ChenMyeong sambil tersipu malu.
“Menyenangkan bagaimana?”

“Begini, ada seorang pria dalam mimpiku. Dan ia seolah selalu berada di sampingku. Aku tidak tahu siapa dia, tapi…” ChenMyeong tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Wajahnya terasa panas. “Aku tahu ini konyol…”

“Sama sekali tidak konyol,” sergah Alcheon sambil tersenyum. “Tapi apa? Lanjutkanlah…”

“Tapi…” ChenMyeong menarik nafas sebelum melanjutkan. “Rasanya aku bahagia dengan keberadaannya di sampingku…”

“Oh ya?” tanya Alcheon dengan senyuman simpul. “Aku rasa pria yang kau sukai sangat beruntung…” tambahnya.

ChenMyeong terpana memandang senyuman manis di hadapannya. Ia tidak bisa menahan debaran jantungnya yang tiba-tiba semakin cepat.

Melihat ChenMyeong diam saja dan tidak menanggapinya, Alcheon bertanya dengan bingung. “Ada yang aneh dengan wajahku?” tanyanya kikuk.

“Bukan begitu kok…” tawa ChenMyeong pecah. “Aku senang sekali bisa bicara banyak dengan Alcheon-shi… Ternyata berbeda sekali dengan yang kulihat di infotaintment, kau sangat baik…”

“Jangan terlalu memujiku…” tukas Alcheon. “Nanti aku bisa terlanjur menyukaimu…”

“Eh?” ChenMyeong menatap pria di depannya dengan terkejut, berharap salah dengar. Tapi tatapan itu begitu serius, dan ia tiba-tiba kehilangan kemampuannya untuk bicara.
“Tapi, yang kusukai…”

“Pagi, semuanya…” sapa BiDam sambil melangkah dengan tegap menghampiri keduanya. “Malam yang panjang, bukan?” ujarnya sambil menatap kedua orang di depannya bergantian. Ia lantas menatap arlojinya. “Sudah jam 9, mana Deokman-shi dan Wolya-shi?”

“Wolya sedang berunding dengan Yeomjong di sana,” jawab Alcheon sambil menggerakkan kepalanya sedikit. “Dan Deokman-shi? Aku tidak tahu. Kau tahu dimana dia, ChenMyeong-shi?”

“Kemungkinan dia sudah berada dalam mini bus, mengkonfirmasikan jadwal hari ini dengan supir…”

“Aku mau melihat rute kita ke mana hari ini,” ujar BiDam sambil buru-buru berlari ke arah pintu keuar. “Kalian santai saja…” ia setengah berteriak sambil menoleh sedikit ke belakang.
“Tapi, BiDam-shi…” ChenMyeong ingin memanggilnya tapi urung melakukannya. Ia hanya memandang punggung BiDam yang menjauh.

Alcheon menatap ChenMyeong sekilas dan hal itu membuatnya lebih dari sekedar tahu. Ia merasakannya. Tatapan ChenMyeong sudah mengatakan semuanya. Namun lebih dari itu, ada perasaan aneh yang menyeruak di dadanya.
————————-=================================—————————
“Ternyata kau memang di sini, Deokman-shi…” BiDam berjalan menghampiri Deokman yang masih asyik bicara dengan supir minibus mereka. “Aku mau mengusulkan sesuatu…”

“Apa itu?” tanya Deokman sambil menunjuk daerah2 yang akan mereka lalui hari ini. “Kalau tempatnya tidak jauh, kemungkinan besar kita bisa ke sana…”

“Aku ingin mengunjungi makam-makam para pembesar istana. Terutama makam Ratu Shilla. Kalau bisa sih, semua makam orang2 penting di Shilla…” deretan gigi putihnya terlihat sempurna dan membuat Deokman tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Deokman memandang BiDam sesaat sebelum bertanya. “Ada alasan khusus kenapa kau mau kesana?”

“Tidak juga,” jawab BiDam. “Tapi…Aku merasa aku harus kesana…” ia mulai memasang wajah memelas. “Boleh kan nona pemandu?”

“Baiklah,” ujar Deokman sambil tertawa. Ia mengambil notesnya dan mulai menulis rencana tambahan itu, serta mengatakan pada supir untuk melalui daerah yang dimaksud.
“Entah kenapa aku sulit menolak permintaanmu…” gumamnya.

Tapi, BiDam mendengarnya dan tertawa pelan. “Sebagai gantinya…” ia mulai berkeliling di sekitar mobil itu. “Tunggu sebentar, oke?” ujarnya lalu pergi. Selang beberapa menit kemudian, ia datang membawa sebuket bunga. “Ini untukmu. Anggap saja aku merayumu untuk pergi ke sana…”

Deokman tidak menyangka ia akan diberikan bunga, matanya membelalak kaget namun bibirnya menyunggingkan senyuman bahagia. “Terimakasih, aku suka sekali dengan bunganya… Kau membelinya?”

“Tadinya bermaksud memetik bunga liar, tapi lihat!” ia menunjuk papan pengumuman di dekat mereka. “Dilarang memetik bunga! Hahaha… Lebih baik aku menjadi warga kota yang taat bukan?”

“Benar,” balas Deokman. “Terimakasih untuk bunganya, tuan turis yang baik…”
———————-======================————————————————-
Alcheon tampak sedikit enggan memasuki wilayah tempat Ratu Shilla dimakamkan. Dan BiDam dengan bingung berusaha menghibur sahabatnya, tetapi tampaknya sia-sia. Mana bisa Alcheon bahagia kalau gadis yang ia sukai menyukai orang lain?

“Di sini makam Ratu Shilla…” ujar Deokman sambil membimbing mereka menuju gerbang di depan kuburan besar itu. BiDam merasa wajah Deokman sedikit pucat, namun karena ia mengira itu hanya perasaannya saja, ia memilih diam dan tidak mengatakan apapun.

“Tiga hari sebelum Ratu Shilla meninggal, ia berhasil menyelesaikan urusan pemberontakan terbesar dalam pemerintahannya…” ujar Deokman dengan suara terputus-putus.

“Apakah kita boleh mendekat?” tanya BiDam hati-hati.

“Ya,” angguk Deokman. “Ayo kita mendekat…”

BiDam mengambil inisiatif untuk melangkah duluan, namun begitu jaraknya dengan makam itu hanya beberapa meter, air matanya menetes keluar. Ia menghapusnya dengan bingung, namun dadanya terasa begitu sakit. Begitu sesak. Perasaannya begitu meluap sehingga airmatanya tidak bisa berhenti menetes.

“Sepuluh langkah.,” gumamnya parau seperti kesurupan. Dan begitu ia mulai menghitung langkahnya sampai kesepuluh, terdengar suara benda berat jatuh, diselingi jeritan histeris.

“Deokman!!!” seru ChenMyeong kalut. “Deokman!!” ia memeluk Deokman yang pingsan dengan wajah pucat.

“Kenapa bisa begini? Apa ia belum sarapan?” tanya Alcheon dengan bingung. “BiDam?” ia menatap BiDam dengan bingung, dan BiDam juga menatap Alcheon dengan bingung.

“BiDam-shi, Alcheon-shi, tolong bantu aku memapah Deokman!”seru ChenMyeong, dan ia mengangkat wajahnya, memandang wajah kedua pria di depannya dengan terkejut.

“Kalian kenapa menangis?” tanya mereka bertiga hampir bersamaan.

——————————-==============================—————————-

NINTH SCENE
DEOKMAN
———————————————————————————————————–
“Apa yang ia katakan?” tanya wanita itu. Deokman melihat melalui mata wanita itu, dan bicara melalui bibirnya. Ia nyaris tidak mengenali suaranya sendiri. “Aku minta kau mengatakannya, ini perintah kerajaan,” ujarnya. Dan ia terkejut mendengar suaranya sendiri begitu tegas.

“Aku…sebetulnya ini sangat memalukan…” ujar pria yang tidak dikenalnya. Namun ada sebersit perasaan dekat saat berada di hadapan pria itu. “Dia berkata, ‘Deokman… Deokmanku…’”

Deokman merasakan keinginan luar biasa untuk menangis. Ada perasaan hangat di dadanya. Ada perasaan bahagia karena dicintai, sekaligus sedih dan penyesalan, entah karena apa. Hatinya terlalu pedih untuk bisa menahan air matanya.
———————————————————————————————————–“Deokman-shi?” panggil suara itu. Deokman merasakan perasaan aneh mengalir du dadanya. Ia merasa begitu merindukan suara itu. “Bisa kemari ChenMyeong-shi? Dia sudah sadar…” suaranya terdengar begitu senang.

“Deokman? Kau sudah sadar?” tanya suara yang sangat dikenalnya. Deokman mencoba membuka matanya perlahan, namun cahaya yang muncul tiba-tiba menyilaukan matanya. Dan kepalanya berdenyut sakit.

“Aku baik-baik saja…” ujar Deokman. Namun yang keluar adalah suara yang pelan dan lirih. Ia sudah bisa melihat lebih baik sekarang. Di hadapannya ada Wolya-shi, Alcheon-shi, dan ChenMyeong, juga seorang pria yang tidak dikenalnya. Dan BiDam? “Dimana BiDam?” pikirnya panik. Entah mengapa ia merasakan suatu dorongan kuat untuk melihat wajah pria itu.

“Dia sudah sadar, dokter…” ujar suara yang ditunggunya. Pria itu memasuki ruangan disusul dengan seorang dokter yang sudah separuh baya. “Coba periksa dia…”

Deokman menjalani pemeriksaan dengan cepat. Ia bahkan tidak sadar apa saja yang ditanyakan dokter dan apa yang dijawabnya. Di sampingnya ChenMyeong menunggui dengan sabar sementara para pria menunggu di luar.

“Hanya kelelahan, kurasa… Namun sepertinya terlalu banyak yang kau pikirkan akhir-akhir ini…” ujar dokter itu disambut anggukan kepala Deokman. “Cobalah lebih santai dalam hidupmu… dan banyak minum vitamin,” sambung dokter itu sambil mencoret-coret kertas resepnya. “Jangan lupa minum vitamin ini, dan obat anemia… kurasa ada sedikit gejala anemia…” Deokman mengangguk dengan pandangan menerawang.

Setelah dokter keluar, ChenMyeong langsung berujar pelan. “Kurasa aku jatuh cinta pada seseorang…” ia menunduk sambil memandang sepatunya. “Begitu kau pingsan, BiDam-shi langsung menggendongmu… Dan saat itu, dia terlihat sangat keren…” sambungnya. “Kurasa aku benar-benar menyukainya…” ChenMyeong menghela nafas panjang dan menatap Deokman sesaat. “Apakah kau mau membantuku, Deokman?”

Deokman menatap ChenMyeong dengan pandangan tidak percaya. Jantungnya berdebar naik turun dengan aneh. Dan ada sesuatu yang seolah menyumbat tenggorokannya. Unni menyukai BiDam? Tanyanya tidak percaya pada dirinya sendiri. Dan perutnya terasa aneh seperti diaduk-aduk. Rasanya ia ingin menangis, namun tidak bisa. Dan rasanya dadanya terasa begitu sakit.

“Permisi…” ucap BiDam sambil mengetuk pintu. “Tidak mengganggu bukan?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tentu saja tidak, masuklah…” jawab Deokman dan ChenMyeong hampir bersamaan. Mereka bertatapan geli lalu tersenyum kecil. Deokman merasakan senyumannya begitu kaku dan hambar. Dan hatinya? Saat ia menatap pria itu, airmatanya kembali bergulir.

“Ternyata benar-benar sakit ya?” tanya BiDam sambil menarik kursi dan duduk di sebelah ranjangnya. “Aku melihat wajahmu pucat tadi, tapi kukira itu hanya perasaanku saja, makanya aku diam saja. Maaf ya…”

“Bukan, ini memang salahku…” ujar Deokman sambil sesunggukan. Ia tidak ingin menangis, tetapi entah kenapa, mendengar suara itu begitu baik padanya, ia merasakan dadanya seperti dihantam. “Aku selalu saja merepotkan semua orang…”

Ia baru menyadari perasaannya yang menyukai pria ini, ia tahu itu. Dan bagaimana dengan ChenMyeong? Bagaimana pula dengan hatinya sendiri? Sebenarnya, siapa yang disukai pria ini? Perutnya semakin mulas saat memikirkan semua itu.

“Aku keluar dulu, Deokman…” ujar ChenMyeong sambil meraih handle pintu. “Kurasa kau ingin minum air putih…”

Pintu tertutup dan untuk sesaat, ruangan luas itu terasa begitu sempit bagi mereka berdua. “Kalau memang ingin menangis, menangis saja…” BiDam mendekat dan menyenderkan kepala Deokman di dadanya yang bidang.

“Maaf ya, BiDam-shi…” ia tidak tahan menerima kebaikan pria itu. Rasanya kehangatan itu membuat tangisnya mau pecah. Sudut bibirnya bergerak-gerak menahan tangis. Deokman menggigit bibirnya, berusaha menahan airmatanya. “Aku terlihat benar-benar menyebalkan…”

“Itu tidak benar, kok…” BiDam mengusap kepala Deokman dan menepuk-nepuk bahunya, seperti menenangkan anak kecil. “Deokman-shi adalah gadis yang baik, bahkan mau mendengarkan permintaanku yang egois, dan kau, sama sekali tidak merepotkan…”

Deokman menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya berguncang-guncang. “Seharusnya…” ia menahan nafas, berusaha menghilangkan sesunggukannya. “Seharusnya kau menyalahkanku…” air matanya menetes perlahan. “De…ngan begitu… perasaanku mungkin…lebih baik…” keluhnya, dan tangisnya pun pecah.

BiDam menepuk-nepuk pundak Deokman dengan lembut, dan tangis gadis itu malah semakin menjadi-jadi. “Setelah menangis, ayo kita makan enak…” canda BiDam sambil menyebut beberapa nama restoran yang ada di dekat hotel mereka.

“Aku mau makan seafood…” sahut Deokman, masih setengah sesunggukan.

“Itu juga boleh,” jawab BiDam sambil tertawa dan mengangguk-angguk mengiyakan. “Ada nggak yang yang masak bubur ikan campur ayam?” tanyanya lagi.

“Mana ada!!” kali Deokman yang tidak bisa menahan tawanya. Airmatanya masih turun, namun kali ini perasaannya jauh lebih baik.
————————===============================——————————-
“Buburnya sedap sekali,” ujar BiDAm sambil menyuap sesendok ke mulutnya. “Alcheon, kau tidak makan? Buatku saja!” ujar BiDAm sambil berusaha menarik mangkuk Alcheon.

Tapi Alcheon lebih sigap. Sebelum tangan BiDam menyentuh mangkuknya, ia sudah menariknya terlebih dahulu. “Tidak ada yang bilang aku tidak mau. Hanya sekedar istirahat tadi…” kilahnya.

Deokman tidak bisa menahan senyumannya. Di samping BiDam duduk pria yang belakangan diketahuinya bernama YeomJong. Ia tahu kalau pria itu mengurus promosi duo penyanyi itu, namun entah mengapa ia tidak suka dengan cara pria itu bicara dan menatap BiDam.

Pandangannya kembali beralih ke ChenMyeong yang duduk di sampingnya. Sesekali ia tertawa dan tersenyum, namun matanya tidak lepas dari BiDam. Pada saat-saat semacam ini ingin rasanya menghilang dari dunia ini.

“Kau lengah…” ujar BiDam sambil menyumpit daging ayam dari mangkuk Deokman. Ketika ia mengangkat wajah, dilihatnya pria itu sedang mengunyah dengan wajah jahil. “Makanya, jangan kebanyakan bengong, Deokman-shi…”

Deokman tertawa, lalu memanfaatkan kesempatan untuk mencoba mengambil lauk di mangkuk BiDam, tapi sebelum sumpitnya sampai, pria itu sudah lebih dulu mengambilkan lauk untuknya. “Kau harus makan yang banyak, baru bisa sembuh…” ujarnya sambil menaruh makanan itu di mangkuk Deokman.

Deokman mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. Pandangan ChenMyeong di sampingnya terasa begitu menusuk. Ia bahagia dengan perhatian BiDam, namun ia tidak bisa memungkiri perasaan ChenMyeong pada pria itu

created by patricia
trueeyes K!NG

Thx for view this

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s