FanFic

A Hard Love aka She says “I Love You”

(Cerita Perdana)

Genre: Romance

Cast:

Sandara Park (2NE1) sebagai Dara Park

Gi Kwang (B2ST) sebagai Lee Gi Kwang

Yuri (SNSD) sebagai Yuri

Lee Seung Gi sebagai Seung Gi

 

 

Pertama kali kami bertemu adalah di restoran kecil, aku bertemu dengannya merupakan suatu kesialan tapi sejak itu aku selalu tersenyum dibuatnya. Saat itu aku membawakan pesanan untuk pelanggan, namun kakinya menghalangi dan aku terjatuh dan sialnya dia malah marah padahal kakinya yang membuatku terjatuh, untungnya makanannya tidak jatuh menimpa seseorang. Karena hanya dia yang marah dan mengadukannya ke pemilik restauran akhirnya aku dipecat. Dia hanya pembawa sial pada ku. Tapi hari ini dia terlihat begitu gagah, dia menyatakan perasaannya padaku. Rasanya sangat lucu. Setelah menolaknya dan memutuskan hubungan dengannya untuk tidak bertemu denganku lagi, rasanya sangat sakit, hatiku seperti terluka karena akhirnya aku merasa menyesal. Mataku mulai perih, semuanya tampak buram. Airmata jatuh ke pipiku. Dari jauh dia tampak berlutut, mengalami kesedihan yang mendalam. Dengan kesedihan itu, tangannya gemetaran menyentuh tanah dan menangis. Ya..laki-laki itu tidak bisa menerima keadaan saat ini karena telah ditolak olehku.

Malam itu, ketika aku pulang dari kerja part time-ku. Dia yang memanggilku Park Dara, dia begitu merasa akrab denganku. Walaupun dalam hati aku tidak suka dia memanggilku seperti itu, karena menurutku dia sama sekali tidak sopan. Entah apa yang membuatku untuk berteman dengannya dan kami pun begitu dekat. Wajahnya begitu senang, matanya yang sipit kalau tertawa begitu lucu, tampak seperti bulan sabit yang menyinari malam ku. Semua kata-katanya sangat membuat ku tertawa, aku merasa aku membutuhkannya, tapi…

“Gi Kwang ssi! (hahaha) Benar-benar kau ini, jangan membuatku tertawa seperti ini, mukamu ini selalu membuatku tertawa, bola matamu hilang jika kau tertawa, hanya mata sipit mu yang terlihat” aku pun tertawa lagi “Bisakah bola matamu terlihat kalau tertawa?” tanya Dara

“Tentu bisa, jika mataku ku besarkan seperti ini, tentu bisa, kelihatankan?” tanyanya, sambil menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya ke antara kelopak matanya, sehingga matanya sedikit belok.

Aku pun tertawa lagi melihatnya bertingkah seperti itu.

“Dara Ssi, kau tertawa lagi!” kata Gi Kwang senang.

“Lagi-lagi, memanggilku Dara Ssi, kau lebih muda dariku, bisakah kau memanggilku Noona[1]?” marah ku sambil hampir mengeluarkan mataku sendiri.

“Aku tidak mau!” jawab Gi Kwang.

“Kau ini tidak sepintar yang kubayangkan. Aahh! Menyebalkan setelah membuatku tertawa dan sekarang membuatku kesal..” sambil menarik napas dan berjalan.

“Tunggu!” kata Gi Kwang sambil berlari kecil menyusul Dara.

“Kenapa kau begini sih, kau itu menyebalkan, dan aku tidak tahu kenapa aku berteman denganmu,” jelas Dara.

“Kan sudah ku bilang, aku menyukaimu..dan kau juga masih tidak percaya” kata Gi Kwang ingin meyakinkan Dara.

“Bagaimana bisa percaya, pertama kali kita bertemu kau sudah memberiku kesialan, dan sekarang kau ingin apa? Kita berhubungan? Apa kau bercanda?” Dara berjalan kembali. Gi Kwang berusaha menyusulnya dan menahan dengan memegang lengan Dara.

“Apa masih belum jelas, aku saat itu tidak sengaja mencelakaimu, kalau boleh terus terang aku berterima kasih aku bertemu denganmu saat itu.” Dara hanya bisa diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Mata Dara tidak bisa berhenti menatap mata Gi Kwang yang juga menatapnya, setelah beberapa detik, matanya bergerak kearah lain.

“Sudahlah, aku sudah mau pulang.. terimakasih untuk hari ini..” ucap Dara.

“Aku antar pulang” ajak Gi Kwang.

“Tidak perlu” Tolak Dara. Gi Kwang hanya bisa diam, melihat Dara pergi begitu saja. Matanya menampakkan kesedihan, karena Gi Kwang sedang mengharapkan yang lebih dari itu.

* * *

            Aku masih ingat  kata-katanya yang begitu membuatku senang. Saat itu aku pulang kerja dan dia kembali muncul didepan mataku.

“Park Dara, Aniya[2], noona[3], aku..aku menyukaimu!!” tegas Gi Kwang. Dara pun kaget mendengarnya.

“Kau sudah gila” kata Dara dengan wajahnya yang masih kaget.

Mata Gi Kwang menunjukkan keseriusannya, Dara juga menatapnya, namun tidak lama Dara berkata, “Kau tahu? Aku sudah menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Jadi..jangan terlalu mengkhayal”

“Aku tidak mengkhayal, Noona” kata Gi Kwang, berusaha meyakinkan Dara.

“Aku tetap tidak bisa, maafkan aku.” Kemudian aku mulai berjalan, namun aku ditahan olehnya, tingkahnya membuatku kaget.

“Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu? Aku anak orang kaya dan punya masa depan yang baik, dan aku pikir kau mau denganku?!”

Dara mencoba melepaskan tangan Gi Kwang dan berkata, “Karena itu aku tidak mau, aku tidak mau bergantung dengan kekayaan keluargamu.”

“Noona~” Gi Kwang berusaha meyakinkan Dara dengan nadanya yang memohon.

“Jika kamu tidak bergantung lagi dengan kekayaan orangtuamu mungkin aku bisa, namun kau terlalu mewah dimataku.” Ungkap Dara.

“Maksudmu, apa mungkin kau menyukaiku?” Gi Kwang menyimpulkan perkataan Dara dan memeluk Dara, kemudian berkata “Noona..” sambil tersenyum.

Pelukan itu membuat goyah Dara, hampir saja tangan Dara ingin membalas pelukan Gi Kwang yang hangat, namun tidak jadi.

Beberapa detik kemudian, Dara melepaskan pelukan Gi Kwang.

“Aku harus pergi,” ucap Dara. “Orang-orang akan berbicara yang aneh-aneh kalau kita bersama malam-malam. Sebaiknya kau pulang.” Begitu berbalik dan berjalan, Gi kwang berbicara dengan keras.

“Apa? Apa yang tidak kau suka dariku? Apa aku tidak pantas mencintai wanita yang lebih tua dariku? Kenapa kau terlalu naif? Aku menyukaimu, tidak peduli kau umur berapa! Bagiku kaulah yang kucintai, yang kubenci saat pertama kali bertemu, satu-satunya adalah kau Park Dara! Tapi kau bicara takut orang akan berkata yang aneh-aneh! Mengapa kau begitu egois? Aku tidak peduli akan hal itu!”, semua kata-katanya membuat Dara beku tidak bisa bergerak, tubuhnya kaku, semua kata-kata itu cukup membuatnya kaget.

Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan tidak mau membalikkan badannya, kemudian Dara berbicara, “Hal itu yang telah menggangguku! Apa aku tidak boleh egois? Lebih baik kau pergi ke orangtuamu dan katakan kau akan menjadi seseorang yang berusaha dengan kemampuan sendiri dan bertunangan atau memacari wanita yang lebih baik,” ketika kata-kata itu datang dari mulutku, rasanya sedih sekali, kemudian aku mencoba merubah wajahku dengan ekspresi seakan-akan aku menjadi tegar, “Sedangkan aku pasti akan hidup bahagia dengan kemampuanku merias wajah, aku harap kau mengerti. Selamat Tinggal. Lee Gi Kwang.”

Noona! Aku tahu, kau pasti menyukaiku kan?” tanya Lee Gi Kwang lagi.

“Tidak, aku tidak menyukaimu! Aku mohon jangan bertanya seperti itu lagi. Aku tidak bisa bersamamu, sekali lagi aku harap kau mengerti, aku tidak sehebat yang kau bayangkan. Hiduplah yang baik. Selamat tinggal!” Kemudian berjalan menjauhi Lee Gi Kwang.

Sementara Gi Kwang hanya bisa menerima keputusan Dara, “Noona, aku mohon jangan begini, aku tidak akan pernah mengerti alasanmu, aku tahu kau menyukaiku. Aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpamu! Aaaaaaakh”, Gi Kwang hanya bisa berteriak sambil berlutut, bercampur dengan perasaannya yang sedang patah hati.

Saat itu pertama dan terakhir kalinya aku melihatnya patah hati, berlutut dan tampak begitu sendirian, aku tidak kuat lagi, rasanya ingin mendekatinya, namun aku berusaha menahan tubuhku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dari kejauhan itu, aku hanya bisa merasakan sakit yang dirasakannya dan aku pun begitu.

 

* * *

Empat tahun sudah berjalan. Park Dara baru saja tiba di Seoul, di Bandara Incheon. Kedatangannya setelah empat tahun, Dara menerima beasiswa untuk belajar menjadi penata rias yang akhirnya mendapat promosi dan dipanggil oleh pemilik salon di Korea untuk menjadi Manajer.

Setelah beberapa hari bekerja sebagai manajer di sebuah salon kecantikan. Ada seorang wanita memintanya untuk merias wajahnya. Namanya adalah Yuri, dia akan bertunangan dan dia meminta untuk dibuat sedikit sederhana dan tetap terlihat cantik.

“Hmm, Unni[4], tunanganku akan datang dan dia akan menjemputku, tolong dirias sedikit sederhana tapi terlihat cantik, aku percayakan kepadamu.” Katanya ke Dara. Dara pun meng-iyakannya, kemudian mengambil alat riasnya dan memulai merias wajah pelanggannya itu.

Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya selesai merias pelanggannya, Yuri. Kebetulan tunangannya sudah datang, laki-laki itu tampak sedang mencari-cari seseorang. Yuri sadar dan melambaikan tangannya sambil berkata, “Disini!”. Kemudian dia menghampiri Yuri.

“Apa sudah selesai meriasnya, haha, kau terlihat berbeda ya! Cantik.” Ungkap laki-laki itu.

Dara tampak kaget setelah melihat laki-laki itu. Kemudian Yuri melihat Dara yang tampak kaget itu.

Unni, kau kenapa?” tanya Yuri, kemudian laki-laki itu melihat ke Dara, wajahnya berubah kaget. Dara juga tidak bisa berkata-kata apa-apa.

“Unni, kenalkan ini tunanganku, Lee Gi Kwang.” Kata Yuri memperkenalkan Gi Kwang ke Dara.

Dara sempat terbengong, namun kemudian berkata, “Halo, senang bertemu denganmu.” Dara membungkuk sedikit.

“Senang bertemu denganmu juga,” membalas membungkuk. Gi Kwang tampak tidak tersenyum sedikitpun, tampak keadaan menjadi aneh. Yuri pun jadi ingin bertanya.

“Sepertinya kalian saling kenal ya?” tanya Yuri penasaran.

“Tidak begitu kenal, kami hanya pernah bertemu beberapa kali.” Jawab Gi Kwang.

“Betul, kami hanya kenal saja, tidak begitu dekat,” sambung Dara dengan sedikit tersenyum.

“Oh..” kata Yuri mengerti.

Diantara mereka ada atmosfir yang terasa aneh, Yuri pun hanya menggelengkan kepalanya, tidak memikirkan yang lainnya. Sementara Gi Kwang menatap Dara dan Dara tidak bisa berbuat apa-apa, sekali-kali matanya bergerak melihat ke Gi Kwang kemudian ke tempat yang lainnya. Dara merasa begitu tidak nyaman dengan sikap Gi Kwang yang begitu.

Jagi-ya[5], ayo kita pulang, aku sudah selesai,” ajak Yuri.

“Oh, iya, ayo kita pulang, haruskah kita makan?”

Sambil berbicara dengan Yuri, mata Gi Kwang sekali-kali menatap ke arah Dara, Dara pun menjadi tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, melihat tingkah dan tatapan Gi Kwang yang sepertinya tajam dan dalam. Kemudian keduanya berhenti berbicara.

“Ah~ Unni, terimakasih ya, aku sepertinya tampak cantik.”, katanya sambil menghadapkan tubuhnya ke kaca.

“Iya, itu adalah pekerjaan saya untuk menjadikan anda tampak cantik, silakan datang lagi, Nona..” sambil tersenyum.

“Baiklah, aku pamit dulu, kapan-kapan aku akan datang lagi ya..”, kemudian Yuri membungkuk dan Gi Kwang langsung berjalan tanpa berkata apa-apa.

“Tunggu!” kata Yuri sambil berlari kecil.

* * *

Malam itu Dara pulang dari tempat kerjanya. Turun dari Bus, seperti biasa berjalan menuju rumahnya. Dia merasa ada yang mengikutinya, beberapa kali berbalik ke belakang namun tidak ada siapa-siapa yang mengikutinya. “Siapa sih?” Tanyanya dalam hati. Begitu Dara masuk ke dalam rumahnya, dari kejauhan seseorang muncul dari balik tembok dan melihat ke arah rumah yang ditinggali Park Dara. Laki-laki itu berdiri saja di depan rumahnya. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Muncul Dara yang membawa plastik sampah. Begitu melihat seseorang. Dara kaget kemudian berbisik. “Kau? Gi Kwang?”. Gi Kwang juga diam saja.

“Sedang apa kau disini?” tanya Dara.

“Aku..” Gi Kwang tidak mampu menjawab juga. Namun paras mukanya berubah “Ternyata kau tinggal disini, aku ingin tahu manajer penata rias tinggal hingga membuat tunanganku berkata kau sangat pintar merias.” Katanya dengan wajah sinis. Sementara Dara hanya diam saja. Mereka terdiam dan keadaan semakin hening dan kaku.

“Apa kau tidak pulang? Sudah malam”, tanya Dara. Gi Kwang tidak menjawab dan terus menatap Dara.

“Apa kau bahagia?” tanya Gi Kwang.

“Apa maksudmu?” tanya Dara memastikan.

“Selama ini pasti kau bahagia belajar menata rias di luar negeri dan begitu pulang mendapat pekerjaan menjadi manajer.” Jelas Gi Kwang.

“Begitulah.” Jawabnya singkat.

“Apa kau tidak ingin tahu bagaimana diriku selama ini?” tanya Gi Kwang lagi. Dara hanya diam, wajahnya memperlihatkan muka yang sedih dan mungkin bercampur menyesal telah bertindak seperti itu terhadap Gi Kwang sebelumnya. “Pasti kau tidak bisa menjawab..atau kau tidak mau menjawabnya? Atau kau tidak ingin tahu?” sambung Gi Kwang. Dara masih tidak bisa menjawabnya.

“Haha~ ”, sedikit tertawa, “Apa Kau memang tidak bisa menjawab pertanyaanKu!!” Tiba-tiba mata Dara penuh air mata bercampur kaget, setelah Gi Kwang berteriak padanya.

“Sepertinya bukan urusanku..” tiba-tiba Dara menjawab sambil mengelap air matanya yang jatuh ke pipinya, dan Gi Kwang pun kaget.

“Kau tahu? Sekarang aku sudah berubah. Aku..walaupun sebelumnya seperti anak kecil, tapi aku akan menikah dengan tunanganku dan aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri, itu kan yang kau harapkan?” tanya Gi Kwang dengan sinisnya.

“Begitulah, aku senang mendengarnya..” Jawab Dara sedikit tersenyum.

“Begitu ya”, sembari sedikit tertawa. “Ini semua terimakasih padamu, benar, seharusnya aku berterimakasih padamu.” Lanjut Gi Kwang. Dara juga hanya tersenyum. Wajah Gi Kwang kembali berubah menjadi serius. Mereka masih tetap tidak bergerak dan masih di posisi sebelumnya.

“Tapi.. apa kau tidak pulang?” tanya Dara.

“Tidak,” matanya masih juga menatap Dara, Gi Kwang tampak begitu merindukan Dara. Matanya hanya tertuju pada Dara. Dara juga tidak berkutit karena tatapan Gi Kwang.

Gi Kwang maju selangkah dan memegang tangan Dara. Kemudian telunjuknya menuliskan sesuatu ke telapak tangan Dara, tulisannya adalah ‘보고싶어’[Bo-Go-Ship-Eo][6]. Dara pun kaget. Kemudian Gi Kwang melanjutkan tulisannya itu, dengan menulis ‘안아받어돼요?’[An-A-Bad-Eo-Dwe-Yo?][7]. Dara pun kembali dikagetkan dengan semua yang dilakukan Gi Kwang. Dara tidak bisa menjawab, semuanya hanya bisa dia balas dengan diam. Karena tanpa jawaban, Gi Kwang menganggap kalau dia boleh memeluk Dara. Gi Kwang akhirnya memeluk Dara, pelukannya seperti tidak mau dilepaskan lagi, pelukannya begitu kuat, Dara merasakan pelukan itu. Tangannya tanpa sengaja mengangkat dan ingin membalas pelukan Gi Kwang tetapi tidak jadi, tangannya pun diturunkannya lagi. Gi Kwang meneteskan air mata. Ia berusaha mengelap air matanya itu dengan tangannya, supaya tidak ketahuan oleh Dara. Kemudian pelukan itu pun dilepaskannya, Gi Kwang menundukkan kepalanya.

“Sebaiknya kau pulang, bukannya besok kau kerja?” kata Dara.

“Ya, aku permisi”. Gi Kwang berjalan, sementara Dara melihatnya berjalan sampai jauh, barulah dia masuk ke dalam rumahnya.

* * *

            Malam itu pun berlalu tanpa kata-kata, kalimat, dalam pikiran pun kosong, hanya ada kediaman dalam keheningan ini. Pagi pun datang dengan matahari terbit dan bersinar dengan cerahnya. Aku ingin melihatnya, namun otakku tidak membolehkannya. Aku hanya bisa menyalahkan diriku, karena perasaanku yang terlarang. Apakah salah jika mencintai seseorang yang lebih muda? Aku pikir hal itu wajar, tetapi kenapa hatiku enggan untuk mengatakannya? Sepertinya aku terlalu gengsi. Mungkin.

Pagi ini, aku berangkat kerja, begitu sampai aku bersihkan meja-meja dan menyapu lantai. Satu persatu teman-teman di salon datang. Kadang sekali-kali aku peringatkan mereka yang terlambat datang, sampai bosan pun aku akan peringatkan terus, haaah..sepertinya aku orang yang sabar. Mungkin kesabaran itu ada batasnya, dan aku harap kesabaran itu tidak ada batasnya, karena aku tidak akan kapok untuk memberikan mereka peringatan, karena ini demi mereka.

Kemudian aku melihatnya datang lagi, Yuri datang, seperti biasa dia memintaku merias wajahnya. Selesai meriasnya, dia mengatakan untuk datang ke acaranya, untuk ikut berlibur dengannya nanti. Dia ingin mengenalkan aku pada seseorang dan aku hanya bisa tersenyum pada saat dia menjelaskan bagaimana seseorang yang akan dikenalkannya padaku. Katanya orang itu sudah mandiri, mapan, dan juga pintar. Aku pun hanya mengatakan iya dan menerima tawarannya. Mungkin sebagai orang yang dewasa aku hanya diam saja, tetapi aku memang tidak dapat berkata apa-apa. Yuri pun akhirnya pergi.

* * *

            Hari itu datang, aku datang ke rumahnya dan melihat ada Gi Kwang, raut wajahnya berubah ketika dia melihatku, sepertinya ekspresi senang yang terlihat dari wajahnya, aku hanya bisa menarik napas. Aku melangkah hingga berada depannya, dan saat itu juga Yuri tahu aku telah sampai.

“Ah,, Unni, terimakasih kau datang!” kata Yuri senang. Sementara Gi Kwang masih memandang Dara. Dara menjadi sedikit tidak enak.

“Seharusnya aku yang mengatakannya, aku sangat berterimakasih kau sudah mengajak ku liburan.” Jawab Dara

Diperjalanan menuju tempat yang akan kutempati ini, aku hanya melihat pemandangan dan mobil yang berjalan baik yang berlawanan maupun yang arahnya sama dengan kami. Aku sangat mengantuk dan aku pun tertidur. Apakah ini mimpi? Mengapa aku merasa nyaman, kepalaku tidak sakit lagi karena terbentur jendela bus. Sepertinya aku bersandar di bahu seseorang, mataku perlahan-lahan terbuka. Setelah aku melihatnya ternyata benar, aku pun kaget, ternyata Gi Kwang disampingku.

“Kau sudah bangun? Yuri memintaku membangunkanmu tapi aku pikir kau kelihatan lelah sekali, jadi aku tidak bangunkan.” Jelas Gi Kwang.

“Oh, begitu ya, terimakasih bahunya.” Dara melihat jendela dan ternyata sudah tiba ditempat yang dituju. “Ayo kita turun.” Ajak Dara.

“Tunggu, apa benar yang dikatakan Yuri, kalau kau akan dikenalkan dengan seseorang?” Tanya Gi Kwang.

“Iya, benar.” Jawab Dara langsung. Mereka pun terdiam. “Apa kau tidak ingin keluar?” Tanya Dara.

“Aku ingin kau berjanji tidak jadian dengannya.” Kata Gi Kwang dengan mantapnya.

“Apa maksudmu? Kenapa kau suka mengatur orang? Jangan karena kau menyukaiku dan kau seenaknya mengaturku!” Kata Dara marah. “Permisi! Aku mau keluar!” Gi Kwang pun berdiri. Dara pun berjalan melewatinya dan keluar dari bus.

“Wah, Unni sudah bangun?” kata Yuri.

“Iya,” sambil tersenyum.

“Oppa[8]! Kemarilah, ada yang ingin aku kenalkan. Cepat!” teriak Yuri.

Oppa itu pun menghampiri Dara dan Yuri.

“Oppa, kenalkan, dia Dara Unni dan Unni, ini adalah Oppa-ku Seung Gi oppa.” Kakak Yuri segera memberikan tangannya untuk bersalaman. Kemudian Dara membalasnya.

“Senang berkenalan dengan mu.” Kata kakak Yuri, Seung Gi, sambil tersenyum, dan sepertinya dia tertarik juga dengan Dara.

“Ya, senang berkenalan dengan mu juga,” jawab Dara sambil sedikit tersenyum.

Hari sudah mulai malam. Malam itu pun katanya ada permainan mencari dalam peta. Ternyata Dara berpasangan dengan Gi Kwang dan Yuri berpasangan dengan yang lainnya, sementara teman-teman Yuri beberapa ikut dan lainnya berada di dalam dan di luar penginapan. Kami harus mencari gambar cincin, jika sudah ketemu, harus diberi cap.

Di perjalanan dalam pencarian gambar itu pun, kami sempat terdiam sesaat, namun tidak lama Gi Kwang menanyakan sesuatu padaku.

“Apa kau menyukainya? Atau tertarik padanya?” Tanya Gi Kwang serius.

“Aku pikir kau mengetahui bagaimana sikapku dan seleraku.” Jawab Dara, dan hal itu memberikan suatu petunjuk dan Gi Kwang kaget.

“Apa kau masih benar-benar menyukaiku?” sambil memegang tangan Dara karena untuk mencegahnya jalan lebih dulu. “Aku mohon, kau harus jawab dengan jujur, ayolah!”

“Lalu kau mau bagaimana, kalau aku jawab? Membatalkan pertunangan dan mengecewakan orangtuamu?” Tanya Dara balik.

“Aku berniat seperti itu, karena selama ini aku hanya menyukai satu orang. Kau kan tahu hal itu?” kata Gi Kwang, sambil memegang tangan Dara.

“Aku mohon, lepaskan aku,” kata Dara. “Kita baru dapat 2 cap dan masih butuh 4 cap lagi, aku ingin kita melupakan masalah ini.” Dara pun mulai berjalan setelah berusaha agar terlepas dari pegangan Gi Kwang.

“Aku ingin kau tahu kalau aku masih menyukaimu!” teriak Gi Kwang. “Aku juga ingin mengetahui kalau kau memang menyukaiku! Aku mohon jawablah jangan membuatku kembali seperti saat itu! Aku ingin kau bersamaku, aku akan memberitahu orangtuaku kalau aku menyukai orang lain!” kata Gi Kwang dengan tegas. Gi Kwang pun berjalan dan segera memeluk Dara dari belakang. Dara pun membalas dengan memegang tangan Gi Kwang.

“Apakah itu yang kau inginkan?” Tanya Dara.

“Ya, aku tidak ingin kau menjadi kakak iparku, aku ingin kau menjadi pasanganku.” Ungkap Gi Kwang.

Dara melepaskan pelukan dari Gi Kwang, dan berbalik menatap wajah Gi Kwang. “Jika kau ingin begitu, tidak bisa. Benar bahwa aku juga menyukaimu dan kau telah membuat jantungku berdegup kencang, tapi aku tidak bisa. Kau akan bertunangan dan kau pun tahu keadaanku. Jadi semua sudah terjawab.” Mata mereka saling bertatapan. “Sebaiknya kita kembali saja.” Ajak Dara.

Begitu mereka balik, dan sampai di depan penginapan, mereka berdua berhenti berjalan.

“Yuri?” kata Dara kaget.

“Yuri, kau kenapa? Ada apa denganmu?” Tanya Gi Kwang curiga.

Yuri yang ditanya hanya menatap mereka berdua, dengan agak emosi, entah kesal, atau mungkin marah, juga dengan tatapan serius, hingga membuat mereka bingung.

“Gi Kwang-ssi[9], kita perlu bicara.” Lalu diajaknya Gi Kwang masuk ke dalam penginapan. Begitu mereka berada dalam tempat penginapan.

“Yuri kau ini kenapa? Kau tampak aneh.” Tanya Gi Kwang lagi.

“Sepertinya aku perlu memikirkan pernikahan kita lagi, mungkin aku seperti anak kecil yang meminta kita menikah buru-buru, tetapi sudah kuputuskan besok untuk mengatakan ke ibumu.” Jawab Yuri.

“Tapi..kenapa?” Tanya Gi Kwang lagi.

“Jangan bilang kau tidak satu kapal denganku. Aku sudah tahu semuanya. Seharusnya aku tidak mengenalkannya pada kakakku.”  Kata Yuri, kemudian melanjutkan, “Ternyata selama ini yang membuatmu begitu menderita dan tidak membuka hati karena perempuan itu? Bagaimana ini? Aku tidak tau apa yang harus ku perbuat, aku tidak bisa menikahi laki-laki yang berbeda kapal dengan ku, aku tahu bagaimana sikapmu dan kau sangat keras kepala. Sebaiknya.. kita sudahi hubungan kita.” Jelas Yuri yang ternyata sudah meneteskan air mata.

“Tapi, kau..” tidak bisa berkata lagi, “Maafkan aku, maaf karena tidak mencintaimu, kau perempuan yang sangat baik.” Ucap Gi Kwang sambil memegang bahunya kemudian tangan sebelahnya mengelap air mata Yuri yang mengalir dipipinya. Gi Kwang pun memeluk Yuri. Yuri menangis di dalam pelukan Gi Kwang.

* * *

Keesokannya mereka bersiap-siap pulang ke Seoul dan kemudian segera menaiki bus. Dara tampaknya tidak tahu apa yang terjadi. Orang-orang di dalam bus tampak tidak semangat. Sepertinya semua kelelahan. Sekali-kali Dara melihat ke arah Gi Kwang duduk. Sementara di sebelahnya adalah Seung Gi.

Tiba-tiba ketika Dara melihat ke Seung GI, Dara tersenyum karena ada yang lucu, mata Seung Gi menjadi juling, “Nah, senyum begitu kan cantik!” kata Seung Gi.

“Haha..Iya. Terimakasih. Kau ini lucu juga ya! [hahaha^^]” Jawab Dara.

“Bagaimana kalau kita bermain gunting batu kertas?” ajak Seung Gi.

“Sepertinya seru,” jawab Dara setuju.

Kali ini, Dara kalah karena ia memasang kertas, sementara Seung Gi memakai jurus andalannya, menang dengan memasang gunting. Bagi yang menang dapat menyentil jidat yang kalah. Dara pun kesakitan. “Awww! Sakit”

“Maaf, maaf, ini hanya permainan ya, anggap saja begitu!” kata Seung Gi menenangkan Dara.

“Ada ada saja, bagaimana bisa?”, kemudian Dara punya ide, “Bagaimana kalau kali ini aku menang, kau harus memasang muka badut atau hal yang lucu?”

“Baiklah,” jawab Seung Gi

Karena mereka sendiri yang mungkin yang ramai, Gi Kwang melihat ke belakang, dan dia melihat Seung Gi dan Dara sedang mengadakan permainannya berdua. Gi Kwang hanya tersenyum, namun sedikit tidak tulus, sepertinya dia cemburu.

“Waaa!! Aku menang,” kata Dara senang. “Giliran kau yang kalah! Haha!” Semuanya menjadi melihat ke arah Dara dan Seunggi duduk. Namun setelah itu dibiarkannya. Dara pun jadi tidak enak dan menutup mulutnya dengan tangannya, sementara Seung Gi tersenyum, melihat Dara bertingkah seperti itu.

“Tapi aku tidak mau, aku sedang tidak ingin,”

“Bagaimana tidak bisa? Tadi jelas-jelas kau membuat muka lucu untuk membuat ku tertawa?”

“Itu tadi, bagaimana kalau bernyanyi saja?” tanya Seung Gi.

“Sepertinya ide yang bagus..” Dara pun tersenyum.

Yang lainnya pun kaget karena yang dinyanyikan Seung Gi adalah lagu yang mempropose wanitanya untuk menikah dengannya.

“Na-rang gyeol heon hae jullae,,”[10] begitu kata-katanya..

Mendengar itu Dara mengubah raut wajahnya. Seung Gi pun langsung berhenti. Dara sepertinya menganggapnya serius.

“Dara? Kau kenapa?” tanya Seung Gi.

“Tidak.”

“Kau kira ini lagu untukmu ya? Kenapa? Aku hanya sedang latihan bernyanyi, karena ingin menyanyikan lagu ini untuk pacarku yang di luar negeri”, jelas Seung Gi. Raut wajah Dara mulai berubah lagi. Ternyata yang diperkirakan Seung Gi benar. Kemudian Seung Gi menjelaskannya dan Dara pun lega.

“Bagaimana bisa kau mengira seperti itu?” tanya Seung Gi.

“Haha, itu hanya aku yang berpikiran seperti itu, terlalu jauh ya?” Dara mengeluarkan tawa palsunya sedikit, karena benar-benar malu dibuatnya. Sementara wajah Seung Gi sepertinya menyembunyikan sesuatu, dia merubah raut mukanya menjadi tidak tersenyum lagi. Apakah dia sudah tahu? Sepertinya, Seung Gi dan Yuri lah yang mendengar pembicaraan Dara dan Gi Kwang pada malam itu.

Akhirnya mereka sampai di Seoul.

Dara pun turun dari bus, dan mengatakan maaf atas sikapnya tadi terhadap Seung Gi, Seung Gi pun mengatakan tidak apa-apa padanya.

Keesokannya, semuanya diceritakan oleh Gi Kwang, dan Yuri juga mendukung Gi Kwang untuk memberi tahu semuanya kepada keluarga Gi Kwang. Ibunya kaget dan marah, karena keputusan mereka yang tiba-tiba dan mengetahui perasaan Gi Kwang yang sebenarnya.

“Maafkan aku Ibu, aku sangat mencintainya, aku mohon..” kata Gi Kwang.

“Bukankah jika begitu harus ada yang kau korbankan? Mungkin kau tidak akan mendapat warisan dan hanya boleh bekerja di perusahaan ku.” Kata Ibunya mengancam. Gi Kwang pun kaget.

“Ibu, bagaimana kau bisa berkata seperti itu?” kata Yuri.

“Ini adalah keputusanku, dan jika masih memutuskan untuk melakukan sesuai keinginannya, maka seperti yang ku bilang sebelumnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Baiklah! Jika kau memang inginnya begitu! Aku sudah besar pasti aku bisa melakukannya!” jawab Gi Kwang dengan yakin. “Aku permisi dulu”. Kemudian Gi Kwang pergi dari rumahnya. Meskipun sudah dipanggil berkali-kali oleh Yuri, Gi Kwang tidak mempedulikannya.

Malam itu, Dara berjalan dan melihat Gi Kwang sedang duduk depan pintu gerbang depan rumahnya. Dara berhenti berjalan, begitu Gi Kwang tau ada Dara, Gi Kwang berdiri. Dengan tersenyum Gi Kwang mengangkat tangannya dan di tangannya itu dia memgang plastic.

“Ayo kita makan?” kata Gi Kwang, sementara Dara hanya diam.

Begitu sudah di dalam rumahnya, Dara hanya diam saja. Sementara Gi Kwang hanya terus melihati Dara.

“kenapa kau tidak makan?”  Tanya Dara.

“Kau sendiri?” Tanya  Gi Kwang.

“Tidak, aku sudah makan,” jawabnya. Tetapi tiba-tiba terdengar bunyi seperti suara sesuatu dari dalam dan minta ingin diisi. Dara tiba-tiba salah tingkah, kemudian memegang perutnya.

“Jangan berbohong. Barusan aku dengar perutmu berbunyi”, kata Gi Kwang kemudian memberikan sedikit daging memakai sumpitnya. “Ayo makan, ini kan kesukaanmu.” Sambil tersenyum, wajahnya tampak gembira, mata itu, mata yang sipit itu seperti dulu lagi. Mata Gi Kwang membuat Dara semakin terus melihatnya, ada sebuah kerinduan di dalamnya, kemudian Dara menggerakkan bibirnya, Dara tertawa.

“Dasar..”, ucap Dara sambil tersenyum kecil, Gi Kwang meliriknya sedikit dan tersenyum lagi. “Sejak kapan kau tahu kesukaanku?” Tanya Dara.

“Kau bilang dulu kalau kau suka Daging bakar,” jawab Gi Kwang. Sementara Dara kaget, dan mungkin terharu juga, Gi Kwang terus melanjutkan makanannya.

“Apa tidak mau melanjutkan memakan makananmu?”, Kata Gi Kwang.

“Kau ini kenapa?” Tanya Dara, dengan menatap serius Gi Kwang.

“Apanya yang kenapa?”,

“Kenapa kau tiba-tiba bertingkah aneh begini?” Tanya Dara menegaskan.

“Aku ingin makan bersamamu, apa lagi? Kau kira aku ingin makan dengan kucing..” jawab Gi Kwang. Dara berusaha menahan tawanya. Kemudian lanjut bertanya.

“Aku serius, ada apa denganmu sebenarnya?”

Gi Kwang pun kaget mendengarnya.

Gi Kwang segera menjawab, “Apa salah membelikan makanan dan makan dengan orang yang aku suka? Aku ingin makan bersamamu, apa aku salah?” jawab Gi Kwang lantang. “Dan lagi aku akan mengajakmu untuk bertemu ibuku, aku akan mengatakan kalau aku akan bersamamu dan menikah denganmu”. Mendengar itu, Dara hanya diam saja, matanya lurus ke depan, menatap Gi Kwang, Gi Kwang yang malu setelah mengatakan itu, melirik Dara sekali-kali.

“Kau serius?” Tanya Dara meyakinkan.

“Besok aku akan mengajakmu untuk bertemu dengannya.” Dara sangat terkejut mendengar kata-kata Gi Kwang. “Jadi besok aku mau kau dandan cantik dan apa adanya, aku harap kau mau datang. Ibuku akan menunggumu.”

* * *

Keesokannya, Dara sudah rapi dan berdandan cantik. Begitu sampai di rumah Gi Kwang, Dara hanya bisa menunduk, Gi Kwang juga sedikit kaget karena Dara berdandan sangat cantik. Gi Kwang kemudian berbisik sedikit di telinga Dara, ‘cantik’, Dara pun tersenyum kecil, senang karena dipuji seperti itu, hal itu pun membuat Dara sedikit percaya diri.

Begitu masuk di ruang tamu. Terlihat Ibunya sudah duduk. Kemudian Dara dan Gi Kwang duduk didepannya, dan Dara menjadi gugup di depan Ibu Gi Kwang. Keadaan itu sedikit sunyi, tidak ada yang mau memulai percakapannya. Kemudian Ibunya menggerakkan tangannya dan menunjuk Dara.

“Siapa namamu?” Tanya Ibu Gi Kwang.

“Sa..saya Park Dara.” Jawabnya.

“Apa kau benar menyukai Gi Kwang?” Tanya Ibunya lagi.

“Ya? Aku..Hmm” jawab Dara ragu.

“Jika kau benar menyukainya, maka aku tidak merestui kalian, aku tidak akan memberikan harta warisan sedikitpun,” kata Ibunya. Gi Kwang tidak terlihat kaget, Dara juga kaget dengan perkataan ibunya Gi Kwang. Tiba-tiba Dara bangun dan duduk di bawah, ternyata Dara berlutut, mengarah ke ibu Gi Kwang.

“Tolong maafkan kami, aku tidak akan bersamanya,..” Gi Kwang pun kaget, begitu juga Ibunya. “Aku,..akan menjadi sukses dan mempunyai uang supaya kau mau merestui kami,” lanjut Dara. Gi Kwang terkejut lagi dengan perkataan Dara sampai-sampai membuat Gi Kwang tersenyum. “Aku akan bersamanya jika aku sukses, aku pikir anda sudah tahu bagaimana keadaanku sekarang. Tolong restui kami, kami sangat memerlukan restu anda.” Dara terus menundukkan kepalanya, memohon untuk direstui.

“Bangun! Untuk apa kau melakukan hal seperti ini?” Tanya Ibunya, “Gi Kwang-ah, bangunkan dia,” namun saat Gi Kwang akan membangunkannya Dara menolak untuk membangunkannya. “Baiklah, jika kau dapat membuktikan kesuksesanmu aku akan mepertimbangkannya kembali,” jawab ibunya.

“Ibu, bagaimana bisa untuk  mempertimbangkannya lagi? Kau seharusnya merestui kami, bahkan dia sudah berlutut dihadapan mu,” Kata Gi Kwang ngotot.

“Diam saja, ini urusanku dengannya, sebaiknya kau menunggunya, jika kau juga bersabar dan diam saja, aku akan juga mempertimbangkannya lagi.” Kata Ibunya. Gi Kwang pun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Mereka akhirnya sudah keluar dari rumah, saling diam dan hanya terus berjalan. Dara hanya diam, sementara Gi Kwang yang senang dengan sikap Dara tadi hanya senyum-senyum dan tidak mengucapkan sesuatu kepada Dara. Dara pun berhenti berjalan, Gi Kwang langsung menatap Dara.

“Ahhhh..Gugupnya!!” Ucap Dara. Gi Kwang kemudian memegang tangan Dara.

“Terimakasih” ucap Gi Kwang. Dara tidak bisa berkata-kata. Kemudian Gi Kwang tiba-tiba memeluk Dara, Dara pun kaget. Lalu Dara tersenyum. Tangannya bergerak membalas pelukan Gi Kwang.

“Apa haruskah kita berpisah dulu?” Tanya Dara.

“Apa?” Tanya Gi Kwang, mukanya langsung berubah menjadi cemberut.

“Kau tidak mau?”

“Benar, aku tidak mau! Aku tidak akan berpisah denganmu, tidak akan!!!” tolak Gi Kwang.

“Kau kan tahu, kita sudah berpisah selama empat tahun jadi kau pasti kuat,”

“Itu beda dengan sekarang, sekarang kau ada disampingku dan kau malah mau berpisah denganku.” Kata Gi Kwang.

“Aku ingin melihat kau menderita lagi!” Dara pun tertawa, kemudian memasang wajah serius sambil tersenyum menatap Gi Kwang, Gi Kwang menjadi terkejut. Dara mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Gi Kwang, kemudian mengucapkan sesuatu sambil berbisik. “Karena aku menyukaimu.” Gi Kwang yang mendengarnya pun kaget, kemudian tersenyum melihat Dara.

Dara pun berlari, “tunggu!!” kata Gi Kwang. Gi Kwang pun berlari sampai Gi Kwang menyentuh tangan Dara, Dara pun berhenti. “Coba kau katakan lagi!”

“Apa? Yang mana? ” Dara berpura-pura tidak tahu.

“Kalau kau menyukaiku.” Jawab Gi Kwang.

“Oh..”, kemudian Dara mengatakannya, ”aku mencintaimu..puas!”, Gi Kwang begitu bahagia mendengar Dara berkata seperti itu.

“Puas” Gi Kwang kembali tersenyum, giginya yang putih pun terlihat sehingga menampakkan wajahnya yang begitu bahagia.

Cahaya cinta di antara Gi Kwang dan Dara akhirnya menyala, Gi Kwang kini begitu bahagia, Dara pun lega mengatakan kata-kata itu. Gi Kwang akhirnya memeluk Dara. Dara hanya tersenyum dalam pelukan Gi Kwang setelah mengatakan hal itu. Diantara mereka seakan-akan ada cahaya yang mengitari mereka. Cahaya itu sangat indah, seindah perasaan mereka.


[1] Noona : Panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan.

[2] Ania: Bukan/tidak

[3] Panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan

[4] Unni : Panggilan adik perempuan ke kakak Perempuan.

[5] Jagi-ya: Sayang

[6] Aku merindukanmu.

[7] Bisakah aku memelukmu?

[8] Oppa : panggilan Kakak laki-laki oleh adik perempuan

[9] Panggilan seseorang terhadap temannya secara formal

[10] Na-rang gyeol heon hae jullae: Mau kah kau menikah denganku~

One thought on “FanFic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s