Perasaan Sesungguhnya

Perasaan sesungguhnya
“Kita kembar, jadi kalau kemana-mana harus sama-sama” ucapnya kepada kembarannya.
“Iya, kita sama-sama jangan sampai tinggalin aku ya?” Tanya kembarannya.
Hari itu selalu ada dalam ingatanku, saat saudara kembarku mengatakannya, membuatku senang. Tetapi rasanya semakin aneh, saat dia ada didekatku, aku merasa janggal, Sangat janggal. Karena dia mengatakan isi hatinya padaku. Aku begitu kaget.
Bagaimanapun kami anak kembar dan nggak mungkin ada ikatan seperti itu, dan yang semakin mengejutkan lagi. Aku mendengar dia berbicara dengan Ibu. Kembaranku itu bernama Rino dan aku sendiri bernama Rani. Aku mendengar kalau Rino mengatakan kami adalah saudara tiri jadi bisa membuka ikatan satu sama lain. Rasanya aku ingin marah, kenapa nggak mengatakannya dari dulu. Kemarahan yang meluap ini membuatku meneteskan air mata. Mengapa semuanya berbohong padaku. Aku ingin melupakan mimpi buruk itu dan kami akan berfoto bersama-sama, layaknya keluarga bahagia.
Aku melihat diriku sedang berbaring. Keluargaku yaitu Ayah, Ibu dan Rino semuanya seperti menunggu bangun dari tidurku. Aku sangat sedih melihat mereka bersedih karena aku belum sadarkan diri. Semuanya, mohon bersabarlah, sebentar lagi, pasti aku sadar, dan mungkin aku akan mencoba untuk memaafkan kalian, karena aku sayang kalian semua.
Setelah beberapa hari, aku belum juga sadar. Aku hanya dapat mengingat masa kecilku yang bahagia, bermain bersama, tertawa bersama. Disitu, disampingku, duduk seseorang yang dari kecil bersamaku, Rino. Dia sangat sayang padaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa nanti ketika aku sadar dari tidurku yang panjang ini. Aku hanya menunggu waktu kapan aku akan sadar. Walau bagaimanapun, Rino sudah aku anggap sebagai saudara sejak kecil, dan aku menyayanginya. Aku baru ingat, ternyata Rino tidak pernah punya pacar dan mungkinkah itu karena diriku. Apakah begitu sayang padaku, sampai-sampai cewek yang menyukainya ditolak olehnya? Sedangkan aku bisa dibilang sudah gonta-ganti pacar sebanyak 3 kali. Apakah dia sakit hati melihat aku dengan cowok lain? Tapi mungkin hatinya sakit, kenapa dia mesti merasakan hal seperti itu. Itu tidak adil baginya, maafkan aku Rino, aku tidak bermaksud seperti itu.
Tiba-tiba aku merasakan diriku terbang melayang, seperti ada yang mengendalikan sehingga aku tidak bisa mengendalikannya sendiri. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku bisa merasakan seseorang sedang duduk. Kemudian aku membuka mataku, kulihat Rino sedang duduk disampingku. Hari itu aku sadar. Aku masih merasa pusing dan lemas. Rino berdiri dan berjalan keluar, sepertinya mau memanggil ayah dan ibu. Kemudian mereka masuk dan senang sekali melihatku sadar. Mereka meminta maaf padaku. Aku hanya bisa tersenyum. Aku melihat Rino yang sedang berdiri. Aku pun tersenyum, dia juga tersenyum.
* * *
Setelah beberapa hari, aku sudah mulai sembuh. Aku mencoba bagun dari tempat tidurku, aku sudah berada di kamarku sendiri, aku sangat senang sudah kembali ke rumah, tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan indah untukku. Kemudian aku keluar ingin menghirup udara segar, dan melihat Rino yang duduk dibangku depan. Aku pun duduk disampingnya. Kami diam sejenak.
“Rani..” lalu berhenti.
“Rino, kamu, apa selama ini kamu nggak punya pacar karena aku?” Tanya Rani.
“Kenapa kamu tanya begitu tiba-tiba?” balik Rino.
“Ayo jawab aku!?”
“Yah, begitulah, bisa dibilang begitu..” jawab Rino sambil tersenyum.
“Apa kamu begitu sayang padaku?” Tanya Rina lagi.
“Iya, sabagai saudara mulai sekarang..”
“Kenapa?”
“Aku sudah mempunya pacar sekarang, teman kita tapi beda kelas. Jadi kamu jangan khawatir. Aku akan berusaha melupakanmu dan menganggapmu sebagai saudara mulai sekarang”
Mulanya Rina sangat terkejut dengan perkataan Rino, tapi Rina mulai berkata, “Oh..selamatlah kalau begitu..tapi atas kejadian kemarin aku sangat meminta maaf ke kamu, dengan tulus aku minta maaf banget, kamu udah seperti kakak bagiku..”
“Iya, kok. Emang kita saudara kan?”
Setelah itu, Rina terus berpikir. Kenyataan yang Rino katakan barusan seperti petir yang telah menyambar dirinya. Sehingga seperti tidak bisa bernapas lagi. Sepertinya Rina cemburu.
“Kamu seneng kan akhirnya, aku sudah punya pacar?” Tanya Rino.
“Eh? I..iya…aku seneng kok..” sedikit tersenyum dan menahan kecewa.
Kenapa? Kenapa sepertinya Rino sudah berubah? Atau aku yang berubah? Mengapa perasaanku nggak nyaman? Sungguh tidak sanggup dengan semua ini? Mengapa aku seperti cemburu? Oh, Tuhan berikan aku jawaban.. aku mohon..
* * *
Hari-hari aku lalui dikamar sendiri. Dari kamar jendela aku melihat Rino baru pulang, dan sepertinya pulang dari kencannya. Aku merasa tidak tahan melihatnya. Entah kenapa, tapi aku tidak menyukai ini. Sepertinya aku kehilangan dia yang dulunya peduli padaku, aku gelisah sekali. Aku ingin dia kekamarku dan berbicara denganku. Tapi sepertinya tidak, dia tidak akan kekamarku. Mungkin dia akan menelepon pacarnya. Aku akan tidur, tapi seperti tidur ayam. Kepalaku penuh pikiran, sehingga akan sulit bagiku untuk tidur. Aku benci perasaan seperti ini. Aku merasa diriku sudah berubah. Apa yang harus kulakukan? Aku sangat butuh jawaban dari seseorang.
Keesokannya, Rino pergi ke sekolah, aku berpikir mengapa dia begitu cepat pergi pagi-pagi. Aku belum bisa pergi kesekolah, karena harus istirahat dulu beberapa hari. Aku melihat ibu dan ayah yang sedang berada di meja makan. Aku keluar dari kamarku, kemudian duduk di depan meja makan.
“Kamu sudah merasa baikkan Rani?” Tanya ayah.
“Sudah kok, Yah..boleh kan kalau besok aku masuk sekolah?” Tanyaku.
“Kalau kamu benar-benar merasa baikkan boleh kok masuk sekolah besok.” Jawab Ayah.
“Terimakasih, Yah” Ucapku.
“Nah, cepat makan, biar besok kuat masuk sekolah..” kata Ibu.
“Terimakasih, Bu”
Aku segera melahap makananku rasanya seperti hidup kembali dengan nafsu makan yang besar. Senangnya punya nafsu makan kembali. Setelah itu, Ayah berpamitan untuk pergi kerja ke kantor. Aku masih melanjutkan makananku. Ibu kembali duduk di depan meja makan, setelah mengantar ayah pergi sampai pintu depan rumah.
“Sepertinya ada yang kamu mau bicarakan ya, Rani?” Tanya Ibu.
“Ah, nggak kok Bu.” Kataku, lalu sejenak diam kemudian seperti ingin mengatakan sesuatu. “Bu, aku mau tanya sesuatu, apa bisa saudara tiri jadian?” Tanyaku nekat.
“Kok tanya begitu? Bisa aja selama nggak ada hubungan darah diantara saudara tiri. Jadi kamu bisa kalau jadian sama Rino” lalu Ibu tersenyum.
“Kok Ibu jadi jawab kesana-sana?”, Rani merasa malu.
“Kalian ada apa selama ini sebenarnya?” Tanya Ibu
“Nggak ada apa-apa kok, Bu. Hanya selama ini, sejak Rino bilang perasaannya ke Rani, Rani jadi gelisah, ditambah dia jadian sama teman sekolahnya. Rani jadi nggak ngerti perasaan Rani.” Jelasku.
“Lebih baik kamu pikirkan perasaanmu yang sebenarnya seperti apa, lalu kalau kamu merasa kehilangan Rino, namanya kamu jatuh cinta sama saudaramu sejak kecil, Ibu sih setuju aja selama kalian menyayangi satu sama lain, dan nggak ada ikatan darah apapun.” Jawab Ibu.
Rani hanya bisa diam. Kemudian dia kekamarnya. Berpikir apa yang sebenarnya dia rasakan.
* * *
Keesokkannya Rani sudah pakai baju sekolah dengan rapi. Rino tampak bingung dengan tingkah Rani yang cuek dengannya. Mereka berdua ke sekolah bareng, tapi Rani tidak berbicara apapun dengan Rino. Sekali-kali Rino hanya bisa melirik Rani yang tidak sama sekali meresponnya dan hanya diam. Sampai sekolah hanya diam saja. Rani malah langsung berjalan menuju kelasnya, Rino sungguh dibuat bingung oleh Rani.
Saat istirahat, Rani ke kantin, kemudian melihat seorang cewek yang sedang duduk sendiri. Lalu Rani menghampirinya.
“Hai!” Sapa Rani.
“Hai juga, kamu Rani kan?” Tanyanya.
“Iya, kamu pacar Rino kan, Devi?” Tanya Rani lagi
“Betul, memang kenapa?”
“Putusin dia sekarang, dia nggak cocok untuk loe..”jelas Rani.
“Emang kenapa? Maksud loe apa, gw harus putus sama Rino?”
“Barusan gw bilang, loe nggak cocok sama Rino, sama sekali nggak cocok..” ucapnya dengan jelas. Kemudian berdiri dan berjalan, tetapi baru berjalan satu langkah, Devi berkata.
“Loe bukannya saudaranya? Tapi kalau nggak salah kalian saudara tirikan? Terus loe suka sama Rino begitu?” Tanya Devi dengan memasang wajah curiga. Rani hanya bisa diam saja dan pergi meninggalkan Devi yang sedang duduk di kantin.
* * *
Di rumah, Rani sedang mengerjakan PRnya. Kemudian ada yang mengetuk pintu, ternyata Rino masuk kekamar Rani.
“Gw putus sama Devi, katanya dia bosen sama gw, ah, emang nggak enak pacaran terus putus.” Ucap Rino.
“Oh, cepet banget udah putus aja. Udah tenang aja, pasti nanti da yang temenin loe lagi kok kemana-mana”
“Loe kok tenang-tenang aja?” Tanya Rino bingung.
“Terus gw harus ngapain? Temenin loe kemana-mana? Jadi cewek loe?” Tanya Rani. Lalu Rani diam, dia menyadari ada yang salah dengan kata-katanya. Rino yang mendengar itu juga hanya diam, tidak bisa berkata-kata.
“Ya udah, gw mau kekamar dulu, mau tidur.” Kata Rino
“Rino, gw mau kok kalo gw jadi temen loe dan berada disamping loe, mungkin gw egois tapi soal putusnya kalian karena gw, gw yang suruh Devi untuk putus dengan loe. Jadi gw minta maaf.”
“Udah gw tebak, tadinya gw bingung, kenapa loe ke kantin dan duduk dideket Devi, ternyata ini jadinya.”
“Loe boleh marah sama gw, tapi akhirnya loe tahu perasaan gw yang sebenarnya. Jadi gw berharap loe lega terhadap perasaan gw yang sebenarnya. Udah malem mendingan loe tidur”, Rino terdiam, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Sebenarnya, Devi hanya teman aja, gw minta tolong sama dia untuk kerja sama dengan gw untuk mengungkap perasaan loe yang sebenarnya terhadap gw. Jadi gw juga minta maaf. Gw rasa kita satu sama”, kemudian Rino tersenyum dan keluar dari kamar Rani. Rani yang mendengarnya hanya bisa diam, Rino berkata seperti itu. Kemudian Rani meletakkan tubuhnya ditempat tidur, tersenyum senang mengingat perkataan dari Rino.
* * *
Paginya, Rani yang sedang sarapan dengan roti, ditarik tangannya dengan tiba-tiba oleh Rino. Lalu mereka pergi dengan mobil. Rani hanya bisa tersenyum begitu juga Rino.
Disebuah taman, Rino memberhentikan mobilnya dan mereka belum keluar dari mobil itu.
“Apa begitu senengnya?” Tanya Rani. Rino hanya bisa tersenyum senang tanpa kata-kata. “Gw cinta pertamakan?” Tanya Rani lagi.
“Bisa dibilang begitu, mungkin udah jadi cinta sejati, udah jadi gila cinta dan hanya menunggu cinta untuk dibalas dari seseorang yang dicintainya.” Berkata sambil menatap lurus kedepan setelah berkata seperti itu, Rino menoleh ke Rani. “Rani bagaimana?”
“Mungkin ini akan jadi cinta terakhir Rani” jawab Rani singkat.
Rino hanya tersenyum mendengar ucapan Rani. Mereka saling berpegangan tangan. Wajah mereka memperlihatkan kebahagiaan mereka yang pastinya tiada akhir. Kebahagiaan yang akhirnya mengetahui sesungguhnya adalah perasaan yang sangat nyaman dan lega itulah yang dirasakan mereka berdua.

diharapkan komentar dari anda..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s