Menunggu Kesayanganku

Menunggu kesayanganku
Perasaan menyesal berbuat salah kepada orang tua memang tidak akan hilang dari pikiran seorang anak yang telah berbuat salah, bahkan telah berduhaka kepadanya. Terakhir kali itu, aku berbuat dosa dan berduka kepada Ibu ku. Aku sudah membantahnya dan memaksanya meminta duit untuk kebutuhanku. Keesokan harinya Renteneir datang, meminta uangnya kepada keluargaku, semua yang dimiliki Ibuku dan aku diambil olehnya. Dimulai itulah Ibu ku pingsan.
Aku sangat merasa bersalah pada Ibu ku, Ibu kini sedang terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit, ia begitu lelah, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku Ibu. Aku akan berusaha tidak akan memaksamu memberikan sesuatu kepadaku. Aku memang anak yang berduka dan tidak tau berterimakasih. Sudah sebulan berjalan, Ibu masih koma dan aku bekerja disebuah restauran. Dan untunglah aku mempunyai seseorang disampingku yang masih menyayangiku. Dia mengantarkan aku pergi ke rumah sakit, tempat Ibu dirawat. Aku sangat menyayangi mereka berdua.
Di perjalanan menuju rumah sakit, aku mengingat kembali, ketika aku masih kecil. Aku mengingat, bahwa waktu kecil aku sering dimandikan, diberikan bedak dan dipakaikan baju yang putih bersih. Saat aku terjatuh dan menangis, aku dipeluk olehnya. Semua Ibu yang melakukannya dengan baik dan tulus dari hatinya. Karena terharu, aku meneteskan air mata, aku senang mempunyai seorang Ibu sepertinya.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera duduk disamping Ibu.
“Ibu, sadarlah, Bu, aku belum meminta maaf padamu.” Kataku, “Ibu, aku sudah mencari kerja sambilan, tolong sekarang sadarlah, berikan senyummu kepadaku, aku rindu Ibu..” sambil menangis, “Ibu pasti senang aku dapat pekerjaan..” Lalu menangis lagi.
Sudah seminggu dan aku sudah mendapat gajiku yang pertama. Aku datang dan duduk disamping Ibu. Beberapa menit kemudian aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun, karena sedikit terkejut dan merasa kalau Ibu akan bangun. Tapi Ibu masih memejamkan matanya.
Ibu tega sekali padaku, membuatku tinggal sendiri dirumah dan makan sendirian. Semua aku sendiri yang melakukannya, aku tidak mau sendiri, Ya Allah, aku ingin Ibu ku bangun dan sehat seperti sebelumnya.
Kata dokter, Ibu terkena serangan jantung ringan, untunglah tidak ada yang berakibat fatal.
Ya.. aku harus bersabar supaya Ibu bisa melihatku tersenyum dan bahagia saat dia bangun nanti.
Ya Allah, apakah ini dosa yang harus ku tanggung, aku sudah menerimanya, ya Alah..tolonglah kabulkan doaku, aku ingin Ibu cepat sembuh. Paling tidak aku sudah menyadari kalau semua perbuatanku selama ini adalah salah. Aku telah menerimanya, menerima atas ganjaran dari perbuatanku.

* * *

Hari demi hari terus berjalan, aku belum bisa merasakan senyuman Ibu ku. Pulang dari kerja, aku segera ke rumah sakit. Aku duduk lagi disampingnya. Kemudian memegang tangan Ibu. Melihat wajahnya yang tertidur pulas. Lalu aku mengantuk dan tertidur beberapa menit. Kemudian aku merasakan tangan Ibu bergerak, sambil terkejut aku membuka mata.
“Ibu?” kataku senang. “Ibu udah sadar?” tanyaku.
Ibu memejamkan mata dan membukanya kembali, tanda kalau Ibu menyatakan benar.
Aku segera memanggil dokter, kemudian dokter segera memerikasanya.
“Bagaimana dokter?” tanyaku.
“Ibu anda baik-baik saja. Dalam 2 hari ini, Ibu anda boleh pulang dan harus beristirahat yang banyak, dan Ibu anda tidak boleh bekerja dulu.” Saran dokter.
“Baik, dokter.” Kataku lagi.
Kemudian dokter pergi. Dan kami hanya berdua.
Aku meneteskan airmata.
“Ibu, maafkan aku, ini semua salahku, aku ini anak durhaka, yang tidak boleh Ibu anggap anak. Maafkan aku, Bu..hiks, hiks” Kataku sambil terus meneteskan airmata.
“Jangan begitu Nak, kamu adalah anak Ibu, darah daging Ibu, bagaimana Ibu bisa menganggap kamu bukan anak Ibu..”
“Terimakasih, Bu. Tapi..Ibu maukan maafin Dina yang udah berbuat salah sama, Ibu?”
“Iya nak. Ibu maafin kok. Bagaimanapun kamu tetap anak Ibu yang nggak akan pernah putus dari tali keluarga.”. kata Ibu menenangkan Dina. “Oh, ya, bagaimana temanmu itu yang selalu mengantarmu kesini?.” Tanya Ibu.
“Eh, yang mana?”tanyaku bingung sambil mengelap mata dan pipinya yang tadinya basah.
“Siapa lagi yang mau mengantarmu kesini?”
“Oh, dia Riko, Bu..” jawabku dengan tersenyum.
“Pasti dia pacar kamu kan?” Tanya Ibu lagi.
“Eh, Ibu kok tau?”
“Ibu mana yang nggak tahu soal anaknya yang lagi jatuh cinta?”
“Ah, Ibu nih bisa aja..” kataku tersipu malu.

* * *

Keesokannya, pulang dari kerja, aku mengajaknya untuk datang menjenguk Ibu.
“Ibu ini Riko,” kataku
“Oh, Riko..” lalu tersenyum, “Terimalasih ya, nak, udah mau jaga anak Ibu selama Ibu koma, kamu emang anak baik. Ibu bersyukur sekali.” Ucap Ibu.
“Iya, Bu, sama-sama, saya seneng kok melakukan ini semua.” Jawab Riko.
“Kapan kalian mau menikah?” Tanya Ibu.
“Eh, nikah?” tanyaku, “Belum mikirin sampai kesana kok..”
“Ah masa sih? Riko gimana?”
“Hm, kalo Riko, masih belum mikirin itu juga, jadi mungkin masih lama.” Jawab Riko, sambil tersenyum.
“Oh, kalo gitu, kalian emang masih muda, sebaiknya emang pikirkan yang matang, supaya tidak menyesal dikemudian hari” Jelas Ibu.
Mereka berdua tersenyum.

* * *

Kemudian, Ditaman.
“Terima kasih, ya Riko, kamu udah bantuin aku, aku senang banget..” kataku.
”Itulah gunanya pacar..” jawabnya
“Sedih senang bersama, gitu?” Sambungku sambil tersenyum.
“Betul banget,”sambil menyentuh pipiku, lalu mencubitnya.
“Aduh, sakit tau..”
“Maaf deh..” sambil senyum-senyum.
“Huh, kayak anak kecil aja,” kami pun tertawa.

* * *

Keesokannya, Ibu pulang dari rumah sakit. Aku dan Riko pergi menjemput Ibu. Kami naik taksi menuju rumah. Setelah itu, kami pun telah beada dirumah. Wajah Ibu begitu senang karena telah kembali dan sangat kangen dengan rumahnya itu, ditambah lagi dengan hiasan-hiasan dengan tulisan “Selamat Datang Kembali Ibu ku Tersayang”, serta kue ulang tahun yang dihias dengan indah.
“Ibu kan belum ulang tahun, untuk apa kalian repot-repot?” Tanya Ibu.
“Nggak apa-apa kok, Bu, Kita senang melakukannya.” Jawabku.
“Ini khusus untuk Ibu yang udah sembuh dan kembali menemani Dina dirumah, kan selama ini dia sendiri dirumah.” Jelas Riko.
“Oh, Kamu nggak mau temenin aku, nggak ikhlas selama ini? Tanyaku dengan sedikit kecewa.
“Bukan begitu, kamu kan sedih selama ini, aku juga nggak mau ngeliat kamu sedih selama Ibu dirumah sakit, begitu..”
“Hahaha.. Udah-udah kalian jangan begini didepan Ibu, nggak baik,” kata Ibu menyudahkan.
“Iya, Bu, baik..” kata Riko, “Dinanya juga sih Bu yang suka marah-marah”, Dina langsung emosi dan Riko meletakkan telunjuk ke bibirnya, bermaksud untuk mendiamkan Dina yang emosi.

* * *

Setelah beberapa jam, Riko berpamitan, dan aku mengantarnya. Aku mengantar Riko sampi ke halte bus. Di halte bus, wajah Riko tampak serius.
“Dina, aku, bagaimana ya mengatakannya.. aku disuruh orangtua belajar keluar negeri, kira-kira 3 tahun, apa kamu mau menunggu selama itu?” tanya Riko dengan sedikit ragu-ragu.
“3 tahun?” muka Dina berubah, matanya berkaca-kaca. “Oh..makanya kamu berkata seperti itu tadi didepan ku? kau meminta Ibu untuk menemani ku selama kamu pergi?” Tanya ku dengan muka sedih.
“Kamu bisa menganggapnya seperti itu..” jawab Riko “Maafkan aku..”
“Nggak, kamu nggak bisa dimaafin.. kamu akan aku maafin kalau setelah kamu pergi dan begitu kembali langsung memberitahuku kalau kamu sudah datanag dan sukses disana. Maka aku dan Ibu akan menyambutmu dengan senang.” Meneteskan air mata dan tersenyum. Lalu kami pun berpelukan.
Riko pun berangkat pada hari lusanya, aku tidak bisa mengantar karena harus bekerja dan hanya bisa menghubunginya. Dia memberiku hadiah kalung yang indah. Mulai hari itu aku menunggunya. Mungkin kalau sebulan lebih aku bisa menunggu, seperti aku menunggu Ibu berbaring dirumah sakit, tetapi ini 3 tahun dan aku harus menunggu. Entah apakah aku bisa menunggu, tapi yang pasti aku akan menunggu orang yang kusayang sampai saatnya dia kembali.
Hari terus berjalan, bulan berganti, tahun terus bertambah. Ibu dan aku bekerja, walaupun susah menyuruh Ibu untuk berhenti, terpaksa membiarkannya bekerja, untuk beberapa tahun lagi. Padahal setelah Ibu pingsan pada hari itu, badannya menjadi mudah lemah kalau kelelahan kerja. Huff.. memang sulit kalau punya Ibu yang rajin dan tidak mudah menyerah. Tapi aku senang dan aku masih memberinya kesempatan, memberikan Ibu waktu kerja selama masih sanggup.
Mengenai kata “sanggup”, entah aku masih sanggup menunggunya. Tapi seperti yang dikatakan, besok adalah tahun ke tiga dia pergi dan besok juga dia akan kembali. Aku tidak sabar. Aku mulai sibuk direstoran, karena mulai tahun kemarin, aku ditunjuk sebagai manager direstoran itu. Walaupun lelah aku senang dengan jerih payahku ini.
Ya.. hari ini, sudah 3 tahun berjalan, Riko akan datang. Aku senang, dan Ibu senang melihatku senang. Aku terus menunggunya dirumah. Sampai malam aku terus menunggu dan belum juga muncul. Tapi pada akhirnya dia muncul juga. Sebuah mobil taksi masuk kedepan rumahku dan orang itu mengeluarkan tas Koper, ya..itu Riko, orang yang kutunggu dan kusayang. Riko berdiri, kemudian dia memasang senyum diwajahnya. Aku pun tersenyum senang, Ibu juga begitu. Kami semua bahagia.
Pada akhirnya orang yang kusayang dan yang selalu kutunggu sudah kembali dan sukses. Ditambah lagi Ibu yang ada disisiku sampai sekarang dan dapat melihatnya tersenyum. Bagiku ini adalah kebahagiaanku yang sangat lengkap. Ternyata aku sanggup menunggunya dan memaafkannya, karena dia telah menepati janjinya. Aku sangat senang, sampai-sampai meneteskan airmata. Aku sangat bersyukur atas kehidupanku ini. Tidak ada cerita yang sebaik ini. Aku puas dengan akhir yang bahagia. Terimakasih banyak ya Allah.

diharapkan komentarnya ya!! ^^
Gomawoyo!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s