Karena Aku Cinta

Reina menyukai Raka yang hobinya bermain bola basket. Reina orang yang pendiam dan pemalu. Tapi dilain pihak ternyata dia bukan benar-benar orang yang pemalu. Caranya dalam mengungkapkan perasaannya benar-benar aneh. Disekolah, dia mempunyai nomor handphone Raka, dengan cara memintanya sendiri dari Raka. Reina seakan-akan sudah tergila-gila dengan Raka. Raka yang tampan baginya, tinggi, dan keren dengan banyak penggemar yang juga gila-gilaan, memang membuat Reina jadi gila.

Semua akan dia lakukan untuk mendapatkan apapun, supaya bisa menjadi miliknya.
Kemudian bunyi SMS dari Hp Raka, yang bertuliskan..

Hai Raka, apa kabar? Aku Reina, kita sekelas loh..Langsung aja, aku suka gayamu bermain bola dan senyummu yang manis lalu keringat yang mengucur didahimu. Aku cuma mau kasih tau kamu kenapa aku suka jadi penggemar berat kamu. Tapi semoga aku nggak bilang yang berlebihan seperti ini ke kamu. Maaf ya kalo udah ngebuat kamu nggak enak.

“Dasar cewek aneh..hahaha..tapi lucu juga..” Raka lalu tersenyum.

***

Keesokkannya, Reina masuk ke sekolah dan tidak melihat Raka dikelasnya.

“Kemana dia?” Tanyanya pada dirinya sendiri.

Hari itu, Reina terus bertanya-tanya ada apa dan kenapa Raka nggak masuk.
Dia sempat mengira, apakah karena Reina memberinya pesan ke Raka, apa Raka males ketemu Reina? Semua pertanyaan terus berada diotaknya.

“Apa gw sms aja?” Tanyanya pada dirinya. Kemudian Reina langsung mengetik

Raka..kok kamu nggak masuk hari ini?

Kemudian smsnya pun dikirim ke Raka. Beberapa menit berjalan, bunyi sms dari

Gw ada urusan, jadi ga masuk..

Reina tampak senang, karena mendapat balasan dari Raka. Reina membalas lagi smsnya ke Raka. Dan keadaan seperti itu hampir berlangsung selama beberapa hari.
Pada hari-hari berikutnya disekolah, saat mau berjalan ke kelasnya, Reina didatangi tiga cewek dengan tampang yang sinis.

“Kalian kenapa? Kenapa ngeliat gw kayak gitu?”

“Oh..ternyata loe lagi PDKT-an sama Raka? Ayo ikut!!”

Reina dibawa ketiga cewek itu ke suatu gudang yang sudah lama tidak ditempati.

“Heh, kalian mau bawa gw kemana?” Tanya Reina

“Udah diem aja deh..kita mau kasih loe pelajaran karena udah seenaknya ngedeketin Raka tanpa seizin kita” kata salah satu dari ketiga cewek itu.

“Apa hak gw untuk lapor dulu sama kalian, trus emangnya kalian siapa, seenaknya bawa gw kesini?” Tanya Reina lagi.

“Loe emang nggak ada apa-apanya..tapi paling nggak harus bilang dulu sama kita, kita ini anggota Fans Club Raka! Jadi jangan seenaknya, pake hak loe untuk deketin Raka,

“Kalian semua aneh!! Emangnya Raka suka dengan semua ini?! Pasti Raka juga nggak akan suka kalian kayak gini!” Kata Reina dengan berteriak.

“Loe itu sok tau banget! Kami itu bisa berbuat apa aja demi Raka, jadi diem aja deh, loe nggak bisa bicara seenaknya” jawab seorang dari ketiga itu.

“Kalian juga seenaknya aja, nggak bedakan sama gw?”

“Gw bilang diam aja, ya diem aja! Ayo teman-teman mulai!”

Mata Reina ditutup dengan kain dan mulutnya pun diselipkan dengan kain.

Mereka mulai memukul, setelah beberapa menit kemudian, mereka sudah keluar dari gedung itu. Reina sudah begitu babak belur dan berdarah-darah. Akhirnya tidak kuat dan dia pun pingsan.
Sudah sore Reina baru bangun dari pingsannya. Dia sudah ingat kejadian tadi siang. Dia juga ingat kalo salah satu dari ketiga cewek itu ternyata adalah pacar Raka.

Dengan muka yang terluka, kecewa dan sambil menahan tangis, Reina bangun dan berdiri, keluar dari gudang itu.

Sesampainya dirumah, Reina, tidak berbicara banyak, saat ditanya oleh ibunya pun tidak menjawab, malah hanya diam dikamarnya. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke kaca, melihat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca, kemudian mengeluarkan air mata. Reina pun menangis.

***

Hari minggu tidak biasanya dilewatkan dengan berada dikamarnya saja. Reina malah hanya berada dikamarnya. Reina berusaha membuka pikirannya dengan terus berada dalam kamarnya, memikirkan semua yang terjadi. Entah apa yang akan dilakukannya. Dengan tegar, dia pergi ke kamar mandi, semua seperti dilupakannya. Tapi itu adalah hal sulit, tidak semua hal dapat dilupakan, apalagi kalau cinta, ditambah mimpi buruk yang telah dialaminya, hingga membuatnya berpikir panjang.

Hari Senin pun datang. Reina masuk sekolah dan kejadian yang kemarin seperti tidak ada apa-apa baginya. Tepat sekali, Reina bertemu dengan ketiga cewek itu lagi dan Reina berusaha memasang muka sinis didepan mereka.

“Oh..kayaknya nggak bakal kapok ya, biarpun udah diberi pelajaran..kita lihat aja nanti yang bakal kita lakuin ke loe,” mereka mengatakannya sambil berlalu.

Lalu Reina berbalik, melihat kearah mereka berjalan. “Ya udah, gw tunggu. Gw juga nggak percaya sama perkataan kalian semua, jadi gw nggak bakal mundur!”

Reina begitu bersemangat berkata seperti itu. Reina berkata dalam hatinya, ayo semangat

* * *

Dikelas, saat itu sedang istirahat.

“Hai! Raka apa kabar?” Kata Reina sedikit berbasa-basi

“Gw..gw nggak baik…gara-gara loe gw jadi punya musuh…” ungkap Reina. Raka kaget melihat muka Reina yang serius itu. “Loe nggak bakal percaya gitu aja kan sama gw?”. Lalu Reina pun tersenyum dan ketawa.

“Loe ini, jangan ngomong dengan muka serius begitu dong!” Kata Raka kecewa.

“Siapa mereka?” tanya Raka penasaran.

“Eh? Bukan siapa-siapa. Apaan sih Raka, loe serius banget, bohong tau gw..”

“Siapa mereka? Apa dari club itu?”

“Nggak kok, beneran” berkata dengan mengerutkan alisnya.

“Gw serius!! Mereka seenaknya aja datengin loe! Gw juga nggak enak sama loe

“Udah cukup! Biarin aja mereka bertindak semaunya, itu mereka dan gw, ya..gw!”

“Beneran kalo loe ga kenapa-kenapa? Loe ga sakit hati?” Raka tampak begitu

“Nggak, kok. Nanti gw kasih tau loe.”

“Ya udah, kalo gitu.” Kemudian berkata lagi, “Nanti pulang gw mau ngomong sama

Dia pergi keluar kelas. Selama pelajaran dimulai Reina terus memikirkan tatapan matanya, melihat Raka seperti itu, mukanya yang tampak khawatir membuat Reina senang dan lebih tenang, ya.. walaupun sedikit.

Waktu pelajaran pun habis, semua murid mulai keluar dari kelas. Reina ingat dengan ajakan Raka tadi. Dia segera berjalan menuju gerbang. Motor bebek sudah terlihat didepan Reina dengan Raka yang mengendarainya. Mereka segera pergi ke sesuatu tempat. Beberapa jam kemudian akhirnya sampai ditempat yang Raka tetapkan.

“Kenapa kita kesini? Nggak ada apa-apa lagi..” Kata Reina sedikit kecewa.

“Disini seperti tempat gw memikirkan masalah dan menyelesaikan masalah gw, jadi dengan kejadian kemaren itu, gw minta maaf baget udah ngebuat loe susah, pasti sakit bangetkan?” tanya Raka.

“Ah? Nggak kok, nggak apa-apa..gw udah lupain semuanya kok..” Jelas

Reina. “Tapi yang mau gw tanyain sekarang ini, adalah…apa dari salah satu anggota club

“Heh? Siapa? Gw selama ini nggak punya pacar kok? Mereka udah kelewatan!!

Harus dikasih pelajaran juga nih!!” Marah Raka.

“Udahlah, gw juga udah ga peduliin apa yang mereka bilang..” Kata Reina pasrah.

“Terimakasih loe mau bersabar sama mereka, dan juga gw minta maaf sama loe..ayo kita pulang”, dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya sambil melihat Reina. Setelah itu mereka pulang dan Raka mengantar Reina pulang sampai kerumahnya.

***

Keesokannya, lagi-lagi, Reina dicari oleh ketiga orang itu.

“Kalian, selalu tau apa yang gw kemarin lakuin ya?” tanya Reina cuek.

“Hahaha!! Pasti donk! Sekarang juga ikut kita! Ayo!” Paksa cewek itu.

“Kalian ga bisa paksa gw kayak gini! Lepasin ga?”

“Nggak, kita nggak akan menyerah dengan apa yang kami mulai sampai loe

Dengan cepat, walaupun Reina berusaha melawan tetap saja dia kalah dengan 3

lawan 1 itu. Mukanya babak belur lagi. Raka sudah mengetahui begitu saja dari salah satu teman kelasnya. Raka mencari disemua ruangan dan Raka pikir pasti hanya disatu-satunya gudang itu mereka dapat ngelakuin apapun.

“Raka?” kata ketiga cewek itu.

“Lepasin Reina nggak? Atau akan gw perlakukan kalian seperti Reina! Cepet nggak? Atau akan gw perlakukan kalian seperti Reina! Cepet keluar!” Bentak Raka marah.

“I..Iya…”, Mereka segera keluar dari gudang itu. Raka yang sangat khawatir, Mereka segera keluar dari gudang itu. Raka yang sangat khawatir, segera berjalan kearah Reina.

“Reina, ayo kita ke rumah sakit sekarang!” ajak Raka

“Nggak, nggak usah..gw mau kerumah aja.” Kata Reina dengan sedikit lemah .

Akhirnya Reina diantar Raka kerumah, lewat izin dari sekolah mereka dapat sampai kerumah Reina. Raka tidak dapat berkata-kata. Dia sudah tidak dapat berbuat apa-apa selain membuat club khusus untuknya itu dibubarkan. Selama seminggu itu, Reina tidak masuk sekolah. Raka mengajukan kesekolah kalau clubnya itu harus dibubarkan, dengan alasan yang masuk akal, akhirnya club itu dibubarkan. Selama ketidakhadiran Reina, ketika Raka ingin menghubungi Reina, Reina tidak mengangkatnya.

Saat datang kerumah Reina pun, dia tidak mau bertemu. Semua yang dilakukan Raka, Reina menolaknya. Ketika Reina kerumah sakit dan mengambil kesempatan untuk bertemu dengan Reina, Reina tidak mau berbicara dengan Raka. Atas semua kelakuan Reina, telah membuat Raka kehilangan akal. Dia sudah tidak tau apa yang harus dilakukannya, kalau Reina tidak bisa memaafkannya.
Setelah lebih dari satu minggu tidak masuk, akhirnya Reina masuk sekolah. Reina masuk kelas dengan sehat, tapi wajahnya tidak memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja. Raka tersenyum saat Reina menengok kearahnya, tapi Reina tidak membalasnya.

Selama jam pelajaran pun, Reina tidak pernah sekalipun melirik ke Raka. Sedangkan Raka selalu melirik ke Reina, menanti-nanti kapan Reina akan menengok kearahnya.

Waktu belajar telah berakhir, Raka berdiri dan menarik tangan Reina yang sedang berjalan. Kemudian menyuruhnya untuk naik motor bebeknya itu.

“Apa yang loe lakukan?” tanya Reina marah.

“Gw mau ajak loe ketempat yang dulu itu, jadi diem aja kalo nggak mau kita

Diperjalanan, mereka pun diam. Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju. Reina segera turun dari motor itu, Raka meletakkan helmnya ke motornya.
“Seperti yang gw bilang dulu, ini tempat untuk menyelesaikan masalah yang ada pada diri gw. Dan sekarang gw mau tanya sama loe…kenapa loe begini terhadap gw?”

“Kamu bukan lagi sebagai idola gw..semua udah berubah..” Jawab Reina

“Apa? Loe serius?”, kemudian Reina mengangguk. Raka seperti kecewa dan mulai melihat pemandangan disekelilingnya. Sesudah beberapa menit, Raka melihat lagi ke Reina. “Kenapa loe bisa berubah begini? Gw udah minta maaf ke loe, tapi kok jadi begini?

Apa yang salah dari gw?”, kemudian menatap mata Reina.

“Trus apa yang bakal loe lakuin?” tanya Reina penasaran.

“Selama ini loe selalu menghindar dari gw, padahal tadinya gw yang mau mencoba menghindar dari loe, hahaha, emang aneh, gw kayak dikasih pelajaran, pembalasan yang kejam..Ya kan, Rein? Selama ini loe udah buat gw ngerasa bersalah, perasaan ini udah nyiksa gw,apa ini juga ga cukup buat loe ? Saat gw mau hubungin loe, semuanya loe tolak dan membuat gw hilang akal..”
Reina seperti mulai menyadari sesuatu. Matanya berkaca-kaca, dia terharu. Sedih dan senang menyatu sampai ia mulai meneteskan air matanya.

“Terimakasih..” ucap Reina.

“Loe udah menggerakkan hati gw, gw udah mulai memikirkan loe, sejak loe sms gw itu, loe ini cewek yang lucu dan nekat. Gw sadar, udah ada loe dalam pikiran gw, dan ternyata gw sayang sama loe..” sambil tersenyum.

“Loe bukan lagi idola gw, loe itu orang yang gw sayang..Gw seneng dengernya, makasih Raka..”
Reina menangis, dan Raka membasuhkan air mata Reina dengan sapu tangannya.

Mereka tertawa dan tersenyum bersama-sama saat itu, menertawakan semua kejadian yang telah terjadi, walaupun rumit, tetapi berakhir dengan bahagia.

Jika kamu sudah membaca mohon beri komentar,,kritik dari anda sangat diharapkan..^^

2 thoughts on “Karena Aku Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s